Cerita Wayang Werkudara

Riverspace.org – Werkudara merupakan putra kedua Pandawa dari pernikahan Prabu Pandu dan Dewi Kunti. Cerita wayang Werkudara menjadi salah satu kisah paling unik di dunia pewayangan, karena sejak dari lahir ia sudah berbeda dari keempat Pandawa lainnya. Baca Juga: Cerita Wayang Yudistira Bahasa Jawa

Sama seperti saudara lainnya, Werkudara juga memiliki nama julukan dan nama-nama panggilan lainnya sehingga tidak heran jika banyak yang menyebutnya dengan nama berbeda-beda. Salah satu nama yang paling sering digunakan untuk menyebut Raden Werkudara adalah Bima atau Bimasena.

Cerita Wayang Werkudara Singkat

Cerita Wayang Werkudara
Cerita Wayang Werkudara

 

1.      Lahir dengan Tidak Biasa

Kelahiran putra kedua Pandawa satu ini terbilang sangat menarik dan tidak biasa, karena tidak dilahirkan dari rahim sang ibu. Hal tersebut dikarena Prabu Pandu mendapat kutukan dari seorang brahmana, karena tidak sengaja membunuhnya ketika sedang bersenggama dengan sang istri.

Kutukan tersebut adalah kelak ketika Prabu Pandu bersetubuh dengan sang istri, maka ajal akan menjemputnya. Ketika itu sang istri memiliki aji Adityahredaya yang dapat memanggil dewa untuk mendapatkan putra.

Putra pertama juga lahir tidak dari hubungan suami istri, melainkan diberikan ole Batara Darma dan diberi nama Yudistira. Sedangkan anak kedua ini diperoleh Dewi Kunti ketika memanggil Batara Banyu sang penguasa angin.

Setelah itu, Dewi Kunti pun mengandung Werkudara selama 9 bulan dan akhirnya berhasil melahirkannya ke dunia. Namun ketika dilahirkan, bayi Werkudara terbungkus kulit tebal yang tidak bisa dibuka dengan senjata tajam dan kekuatan lainnya.

Akhirnya, bungkusan tersebut diletakkan di Hutan Mandalasana selama 14 tahun lamanya. Prabu Pandu pun berdoa kepada dewa untuk membantu putra keduanya lahir ke dunia dan Batara Guru pun mengutus Batara Narada untuk menolongnya.

Atas petunjuk Batara Narada, akhirnya bungkusan Werkudara dapat dipecahkan oleh seekor gajah yang bernama Sena hingga Werkudara lahir ke dunia.

 

2.      Berpakaian Khas

Dalam cerita wayang Werkudara, pakaian yang dikenakannya sangat khas, yakni berupa kain poleng bang Bintulu lima warana yang terdiri dari warna putih, kemudian hitam, merah, dan juga hijau. Pakaian tersebut sangat pas dan cocok untuk sosok Werkudara yang berperawakan tinggi besar serta gagah.

 

3.      Watak dan Sifat Werkudara

Menurut cerita, Werkudara merupakan sosok putra Prabu Pandu yang tidak pernah berbicara halus dan tata krama kepada siapa saja, kecuali dengan Dewa Ruci. Kepada siapapun, Werkudara menggunakan bahasa Jawa ngoko yang biasa digunakan oleh orang dewasa kepada anak kecil.

Meskipun demikian, sosok Werkudara memiliki watak ksatria, gemar menolong, cinta kasih kepada sesama, dan juga sosok yang sangat berbakti kepada orang tua, saudara, dan juga gurunya.

Tak hanya itu saja, Werkudara juga memiliki sifat teguh dalam berprinsip, kemudian ia juga selalu menepati janji, gemar menolong, bahkan menegakkan keadilan dan memberantas angkara murka.

Watak setia dan berbakti kepada sang guru pernah ia buktikan, ketika diutus oleh Resi Druna untuk mencari air kehidupan. Banyak rintangan yang menghadang, mulai dari dua raksasa tangguh, kemudian ombak menggulung, dan seekor naga.

Rintangan tersebut tentu saja membahayakan Werkudara, namun ia tetap mantap menjalankan misi tersebut karena permintaan Resi Druna. Padahal, hal itu hanyalah tipu muslihat Resi Durna yang ingin menjerumuskan Werkudara atas perintah Duryudana.

Sedangkan bakti kepada sang ibu, yakni Dewi Kunti ia buktikan dengan memenuhi sumpah ibu, yakni kerasa dengan darah Dursasana dan menjadikan kepalanya sebagai alas kaki setelah Werkudara bisa mengalahkannya.

Baktinya terhadap saudara-saudaranya dibuktikan dengan kemenangannya dalam berbagai macam pertempuran, khususnya perang Baratayuda yang menewaskan Sengkuni, Duryudana, dan juga Dursasana yakni lambing kejahatan keluarga Kurawa.

 

4.      Masa Kecil Raden Werkudara

Raden Werkudara tumbuh dan dibesarkan oleh kedua orang tuanya, yakni Prabu Pandu dan Dewi Kunti bersama dengan keempat saudara Pandawanya. Tidak hanya itu, ia juga hidup berdampingan dengan keluarga Kurawa yang merupakan saudara sepupunya. Baca Juga: Cerita Wayang Adipati Karna

Meksipun hidup bersama dengan para Kurawa, akan tetapi mereka tidak pernah akur. Bahkan Kurawa sempat beberapa kali mencoba membunuh Pandawa dan membuat Werkudara merasa sangat kesal.

 

5.      Masa Muda Raden Werkudara

Pada masa mudanya, Raden Werkudara dipenuhi dengan ketekunan dan ujian. Bahkan sang guru juga mencoba menjerumuskannya agar terbunuh atas perintah saudara sepupunya, yakni Duryudana.

Ketika itu, ia ingin berguru kepada Resi Druna untuk mendapatkan ilmu tentang kehidupan. Akan tetapi, untuk mendapatkan ilmu tersebut Werkudara harus memenuhi persyaratan terlebih dahulu, yakni mencari sebuah kayu dan air kehidupan.

Sebenarnya tugas tersebut adalah tipu daya dari Resi Druna yang telah diberi mandat oleh Duryudana untuk membunuh Werkudara. Namun, Werkudara tidak menyadari hal tersebut sehingga tetap mengikuti apa yang diharapkan Resi Druna sang guru.

Tugas pertama adalah mencari kayu gung susuhing angin yang hanya ada di Gunung Candradimuka, tepatnya di dalam sebuah gua. Werkudara pun berangkat ke sana dan masuk ke dalam gua, namun ternyata di dalam gua ada dua raksasa jahat yang langsung menyerangnya.

Setelah berhasil melumpuhkan kedua raksasa tersebut, Werkudara kembali ke hadapan Resi Druna untuk berguru. Namun, ada tugas kedua yang menjadi persyaratan lainnya, yakni mencari air suci kehidupan yang berada di tengah-tengah samudera.

Karena ia sangat ingin belajar dengan Resi Druna, akhirnya ia pun berangkat untuk mencari air kehidupan padahal ia tahu betul bahwa ini merupakan tugas yang sulit. Bahkan ibu dan keempat saudaranya pun melarangnya, akan tetapi ia sudah berjanji kepada sang guru.

Setelah itu, ia pun berangkat ke arah selatan untuk mendapatkan air suci kehidupan di samudera. Sesampainya di sana ia langsung menceburkan diri ke dalam laut, kemudian muncul naga besar yang melilitnya, namun pada akhirnya dapat ia kalahkan.

 

6. Istri Werkudara

Dalam cerita wayangnya, Werkudara atau biasa disebut Bimasena memiliki tiga orang istri, yakni Dewi Nagagini, Dewi Arimbi, dan juga Dewi Urangayu. Dari pernikahannya dengan tiga orang istri tersebut, Werkudara mendapatkan keturunan.

Dari Dewi Nagagini, ia mendapatkan seorang putra yang akhirnya diberi nama Raden Antareja, kemudian dari Dewi Arimbi ia memiliki putra bernama Raden Gatotkaca, dan terakhir dari Dewi Urangayu ia memiliki putra bernama Raden Antasena. Baca Juga: Contoh Cerita Wayang Bahasa Jawa Singkat

Begitulah cerita wayang Werkudara yang tidak lain tidak bukan adalah Raden Bimasena, putra kedua Prabu Pandu dan Dewi Kunti. Ia merupakan sosok paling kuat di antara saudara-sudaranya, bahkan memiliki perawakan tinggi besar dan gagah.

 

Tinggalkan komentar