Cerita Wayang Adipati Karna

Riverspace.org – Adipati Karna adalah sosok yang mendukung Kurawa untuk terus berseteru dengan saudara tirinya, yakni Pandawa. Cerita wayang Adipati Karna cukup menarik, karena ia sebenarnya merupakan kakak tertua dari tiga di antara Pandawa, yakni Yudistira, Bimasena, dan Arjuna. Baca Juga: Cerita Wayang Werkudara

Akan tetapi, ia lebih memilih untuk berada di pihak Kurawa dan bahkan di akhir hayatnya ia diberi kepercayaan sebagai panglima Kurawa. Namun, akhirnya Karna gugur di tangan adiknya sendiri, yakni Raden Permadi alias Arjuna.

 

Cerita Wayang Adipati Karna Singkat

Cerita Wayang Adipati Karna
Cerita Wayang Adipati Karna

1.      Kelahiran Adipati Karna

Pada suatu hari, Dewi Kunti mendapatkan tugas untuk menjamu seorang pendeta yang tidak lain adalah tamu sang ayah, yakni Resi Durwasa. Atas jamuan yang diberikan oleh Dewi Kunti, sang pendeta sangat senang sehingga akhirnya menganugerahi Dewi Kunti sebuah ilmu kesaktian, yakni Adityahredaya.

Kesaktian tersebut merupakan semacam mantra yang mampu memanggil dewa dan mendapatkan anugerah seorang putra dari Resi Durwasa. Keesokan harinya, Kunti pun mencoba ajian tersebut sambil memandang matahari terbit, sehingga dewa penguasa matahari yaitu Surya muncul.

Seperti yang dianugerahkan oleh Resi Durwasa, Surya yang muncul pun siap memberikan Kunti seorang putra. Akan tetapi, Kunti ketakutan dan menolaknya, karena niat awalnya hanya mencoba keampuhan dari kesaktian yang diberikan oleh Resi Durwasa.

Sang Surya pun menyatakan bahwa kesaktian Adityahredaya bukanlah aji-aji mainan, sehingga akhirnya Kunti pun mengandung karena sabda sang dewa. Akan tetapi, Surya membantu agar Kunti segera melahirkan bayinya, kemudian mengembalikan keperawanan Kunti sebelum kembali ke kahyangan.

 

2.      Dalam Asuhan Adirata

Demi menjaga nama baik kerajaan dan negaranya, Kunti yang melahirkan seorang putra sebelum menikah akhirnya terpaksa membuang putranya tersebut di Sungai Aswa dalam sebuah keranjang. Putra dari sang Surya diberi nama Krana dan akhirnya ditemukan oleh Adirata yang merupakan kusir kereta di Kerajaan Kuru atau Kerajaan Hastinapura. Adirata sangat gembira ketika menemukan bayi di dalam keranjang dan menjadikan bayi tersebut sebagai putranya.

Karena Karna sejak lahir sudah memakai pakaian perang lengkap beserta anting-anting dan juga kalung pemberian dari Surya, maka bayi tersebut akhirnya diberi nama Basusena oleh Adirata. Basusena kemudian diasuh oleh Adirata dan mendapatkan sebutan Sutaputra alias anak kusir.

Namun ada pula yang menyebutnya sebagai Radheya, alias anak dari Radha istri Adirata. Meskipun ia merupakan anak kusir, namun keinginannya sangat besar sehingga ia ingin menjadi perwira kerajaan. Akhirnya ia pun mendaftarkan diri masuk ke perguruan Resi Durna yang mendidik para Pandawa dan Kurawa.

Sayang sekali, Resi Druna menolak menjadikan Radheya sebagai murid, pasalnya ia hanya berkeinginan menjadi guru dari kau ksatriya saja. Tak berhenti di situ, Radheya yang ditolak oleh Resi Druna mencari guru lain dan menyamar sebagai kaum Brahmana agar bisa mendapatkan pendidikan dari Parasurama.

Parasurama tidak lain tidak bukan merupakan guru dari Bhisma dan Resi Druna, sehingga Redheya ketika itu mendapatkan guru yang lebih baik. Namun, ia ketahuan berbohong sehingga akhirnya dikutuk oleh Parasurama agar ilmu yang diajarkannya tidak berguna lagi untuk Radheya alias Karna.

 

3.      Menjadi Raja Angga

Druna mempertunjukkan hasil pendidikannya kepada kaum Kurawa dan Pandawa di hadapan seluruh bangsawan dan rakyat Hastinapura di ibu kota Kerajaan Kuru. Setelah sampai ke berbagai tahap pertandingan, Druna pun mengumumkan bahwa Raden Arjunalah murid terbaiknya, apalagi dalam ilmu memanah.

Ketika itu tiba-tiba Karna muncul dan menantang Arjuna, namun Resi Krepa selaku pendeta istana meminta Karna untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu. Pasalnya, untuk menghadapi Arjuna tentu saja harus dari golongan yang sederajat.

Mendengar hal tersebut membuat Karna tertunduk malu, namun Duryudana yang merupakan Kurawa tertua membelanya. Pasalnya, Duryudana beranggapan bahwa keberanian dan kehebatan tidak harus dimiliki oleh kaum ksatriya saja melainkan semua orang harus memilikinya.

Sebagai jalan keluar akhirnya Karna diangkat menjadi Raja Angga dan hal tersebut disaksikan oleh Adirata sang ayah. Karena hal itulah semua orang menjadi tahu bahwa Karna merupakan anak kusir dan membuat Bimasena mengejeknya.

Namun, tidak ada seorang pun yang tahu bahwa ketika pertama kali Karna muncul Kunti sudah menyadari bahwa Karna adalah putra sulungnya, sehingga ia pingsan di bangkunya. Akhirnya, pertandingan antara Arjuna dan Karna ditunda karena hari sudah petang.

 

4.      Kutukan para Brahmana

Karna pernah berguru kepada Parasurama namun dengan menyamar sebagai kaum Brahmana, akan tetapi hal tersebut terbongkar ketika sang guru menyadari bahwa kemampuan menahan rasa sakit Karna bukanlah dari kalangan Brahmana melainkan seorang Ksatriya asli.

Hal tersebut membuat Parasurama pun mengutuk Karna dengan kutukan yang dahsyat, yakni kelak ketika Karna bertarung antara hidup dan mati melawan seorang musuh yang hebat, maka seluruh ilmu yang telah Parasurama ajarkan kepada Karna akan dilupakan.

Tak hanya kutukan tersebut, ada lagi kutukan kedua yang diperoleh Karna yakni ketika ia mengendarai keretanya kemudian menabrak seekor sapi sampai mati. Sapi tersebut milik kaum Brahmana yang sedang  menyeberang jalan, sehingga kemudian Brahmana muncul dan mengutuk Karna.

Kutukan tersebut adalah kelak roda kereta Karna akan terbenam ke dalam lumpur, hal tersebut akan terjadi ketika Karna berperang melawan musuhnya yang paling hebat.

 

5.      Terbukanya Jati Diri

Akhirnya dalam cerita wayang Adipati Karna, jati diri Karna diungkap oleh Kresna yang menyatakan bahwa mereka berdua adalah saudara seibu. Apabila Karna mau bergabung dengan Pandawa, maka Kresna akan bersedia merelakan tahta Hastinapura untuk Karna.

Mendengar hal tersebut tentu saja Karna merasa terkejut, sehingga ia menghadapi dilema yang sangat besar. Namun dengan penuh pertimbangan, akhirnya Karna memutuskan untuk tetap membela Kurawa karena ia tidak mau meninggalkan Duryudana yang memberikan kedudukan, harga diri, dan perlindungan ketika ia dihina oleh para Pandawa.

Tak hanya Kresna, Dewi Kunti ibu kandung Karna pun merayunya untuk membela Pandawa sehingga tidak perlu berhadapan dengan para adik kandungnya. Karna tetap menolak untuk memihak Pandawa dan tetap menganggap bahwa Radha adalah ibu sejatinya.

Meskipun begitu, Karna tetap menghibur Dewi Kunti dan berjanji tidak akan membunuh Pandawa selain Arjuna. Akan tetapi, pada akhirnya Karnalah yang harus menghembuskan napas terakhir di medan perang tepat di tangan Arjuna. Baca Juga: Contoh Cerita Wayang Bahasa Jawa Singkat

Itulah cerita wayang Adipati Karna mulai dari kelahirannya di dunia hingga akhir hayatnya di medan pertempuran melawan pasukan Pandawa. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Adipati Karna akhirnya terbunuh di tangan adiknya sendiri, yakni Raden Arjuna.

Tinggalkan komentar