Resistor

Riverspace.org – Resistor adalah salah satu komponen elektronika yang mempunyai bentuk fisik dua kaki atau kawat serta didesain untuk mengatur tegangan listrik ataupun arus listrik. Komponen resistor ini memiliki nilai resistansi (tahanan) tertentu yang bisa menghasilkan tegangan listrik diantara kedua kawat kaki.

Dimana nilai tegangan terhadap resistansi tersebut berbanding lurus dengan arus listrik yang mengalir. Biasanya komponen ini akan digunakan dalam rangkaian perangkat elektronika, namun pada sirkuit elektronika yang paling sering dipakai.

Bahan dasar pembuatannya pun sangat beragam, mulai dari kaca film., bahkan kawat resistansinya dibuat dari kombinasi resistivitas tinggi seperti nikel-kromium.

Nah, untuk Anda yang masih belum mengerti tentang apa itu resistor, dalam artikel ini akan saya berikan penjelasan lengkap seputar komponen elektronik satu ini. Biar tidak terlalu penasaran, langsung saja kepoin di bawah ini.

Pengertian Resistor

Gambar resistor dalam rangkaian elektronika

Tidak jauh berbeda dari sedikit penjelasan yang saya berikan diatas, pengertian resistor adalah salah satu komponen elektronika yang memiliki nilai hambatan tertentu. Dimana hambatan tersebut akan menahan arus listrik yang mengalir melewati komponen ini.

Biasanya suatu resistor atau hambatan akan terdiri dari bahan campuran dari carbon. Namun tidak sedikit juga resistor yang dibuat dari kawat nikrom, yakni sebuah kawat yang memiliki resistansi yang cukup tinggi serta tahan terhadap arus kuat listrik.

Misalnya, pemakaian kawat nikrom dapat diperhatikan pada elemen pemanas setrika. Jika elemen panas tersebut dibuka, maka akan terdapat seutas kawat spiral yang biasanya disebut sebagai kawat nikrom.

Sedangkan untuk satuan komponen resistor yakni Ohm (Ω) yang merupakan satuan SI untuk resistansi arus listrik.

Fungsi Resistor

Gambar kegunaan resistor dalam sebuah rangkaian

Tentunya semua komponen elektronika akan memiliki fungsi atau kegunaannya masing-masing. Nah, untuk beberapa fungsi dari resistor dalam dunia elektronika adalah sebagai berikut:

  1. Resistor berfungsi untuk membatasi arus listrik yang mengalir melewati komponen ini.
  2. Komponen resistor dapat digunakan untuk aplikasi arus listrik DC yang memerlukan keakuratan yang cukup tinggi. Misalnya aplikasi pemakaian resistor ini pada DC Measuring equipment, dan reference regulators untuk voltage regulator dan decoding network.
  3. Sebagai standar di dalam verifikasi keakuratan dari sebuah alat ukur resistive.
  4. Fungsi resistor untuk mengatur tegangan keluar (output) dalam rangkaian power supply.
  5. Dapat berguna untuk aplikasi power, sebab memerlukan frekuensi respon yang baik, daya yang tinggi serta nilai yang lebih besar dari pada power wirewound resistor.
  6. Resistor juga berguna sebagai pembagi tegangan arus listrik.

Namun jika Anda ingin mengetahui fungsi resistor secara singkatnya, coba perhatikan fungsi-fungsi dibawah ini dari rangkuman diatas, antara lain:

  • Pembatas Arus listrik.
  • Pengatur Arus listrik.
  • Pembagi Tegangan listrik.
  • Penurun Tegangan listrik.

Karakteristik Resistor

Gambar ciri khas dari hambatan

Komponen elektronika berupa resistor ini mempunyai karakteristik utama yang terdiri dari:

  1. Resistensi terhadap daya listrik yang mengakibatkan boros.
  2. Koefisien suhu, desah listrik, dan induktansi.
  3. Komponen resistor bersifat resistif.
  4. Dibuat dari bahan dasar karbon.

Jenis-Jenis Resistor

Pada dasarnya, komponen resistor bisa diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, seperti Fixed, Variable, Thermistor dan LDR. Untuk keterangan dari keempat jenis resistor ini adalah sebagai berikut:

1. Fixed Resistor (Resistor Tetap)

Jenis fixed resistor merupakan komponen resistor yang mempunyai resistansi tetap. Nilai sebuah resistor atau hambatan biasanya akan ditandai dengan kode warna ataupun kode angka.

Sedangkan golongan di dalam jenis fixed resistor berdasarkan komposisi bahan dasar pembuatannya antara lain:

1. Carbon Composition Resistor (Resistor Komposisi Karbon)

Komposisi karbon

 

Jenis resistor ini terbuat dari bahan dasar komposisi karbon halus yang dicampur dengan bahan isolasi bubuk sebagai pengikatnya (binder). Tujuannya adalah untuk mendapatkan nilai resistansi yang diinginkan.

Sedangkan untuk nilai resistansi yang biasa ditemukan di pasaran untuk resistor jenis carbon ini berkisar dari 1Ω hingga 200MΩ dengan daya 1/10W hingga 2W.

2. Carbon Film Resistor (Resistor Film Karbon)

Gambar jenis film karbon

Jenis resistor karbon film ini terdiri dari film tipis karbon yang diendapkan subtrat isolator kemudian dipotong berbentuk spiral. Nilai resistansi jenis ini tergantung pada proporsi karbon dan isolatornya.

Apabila semakin banyak bahan karbon, maka semakin rendah pula nilai resistansinya. Keunggulan dari karbon film adalah bisa menghasilkan resistor dengan toleransi yang lebih rendah dan juga rendahnya kepekaan terhadap suhu apabila dibandingkan dengan carbon composition resistor.

Sedangkan untuk nilai resistansi dari resistor film karbon yang tersedia di pasaran berkisar antara 1Ω hingga 10MΩ dengan daya 1/6W sampai 5W. Sebab rendahnya kepekaan terhadap suhu, maka resistor film karbon bisa bekerja pada suhu yang berkisar dari -55ºC sampai 155ºC.

3. Metal Film Resistor (Resistor Film Logam)

Gambar resistor metal film

Jenis resistor metal film merupakan komponen resistor yang dilapisi dengan film logam tipis ke substrat keramik dan dipotong bentuk spiral. Biasanya nilai resistansi jenis ini akan dipengaruhi dari segi panjang, lebar, dan ketebalan spiral logam.

Sebenarnya resistor jenis ini memiliki bentuk yang hampir sama dengan jenis film karbon, namun yang menjadi pembedanya adalah pada bagian warna dasarnya saja.

Dalam hal karakteristik, maka diantara kedua jenis ini mempunyai perbedaan yang cukup terlihat jelas. Untuk jenis resistor film metal memiliki ketelitian tertinggi jika dibandingkan dengan resistor tetap jenis lain. Biasanya toleransinya hanya berkisar 1-5 % saja.

Jenis resistor film metal memiliki resistansi yang lebih besar jika dibandingkan dengan resistor film karbon. Jika pada resistor film karbon hanya identik dengan 4 kode warna untuk membacanya, maka di resistor film metal memiliki 5 hingga 6 kode warna.

Jika dilihat secara keseluruhan, jenis resistor ini termasuk yang terbaik diantara jenis-jenis resistor yang ada (carbon composition resistor dan carbon film resistor).

2. Variable Resistor (Resistor Tidak Tetap)

Variable resistor merupakan jenis resistor yang nilai resistansinya bisa berubah dan diatur sesuai keinginan penggunanya. Biasanya resistor jenis ini terdiri dari potensiometer, rheostat dan trimpot.

1. Potensiometer

Gambar simbol dan bentuk

Potensiometer termasuk jenis resistor variabel yang memiliki nilai resistansi berubah-ubah dengan cara memutar porosnya melalui sebuah tuas yang ada pada potensiometer. Sementara untuk nilai resistansi dari potensiometer biasanya tertulis di bagian fisik dalam bentuk kode angka.

Resistor berupa potensiometer ini sering sekali digunakan dalam rangkaian elektronik seperti pengatur volume output pada tone control ataupun menjadi master gain dari power amplifier.

Namun selain dibuat dari bahan kawat, ada juga potensiometer yang dibuat dari bahan karbon. Jadi ukurannya dapat diperbesar dan diperkecil serta interval resistansinya yang cukup besar.

Terdapat 2 jenis potensiometer yang akan biasa Anda temukan di toko-toko elektronik berupa:

  • Potensiometer jenis logaritmik.
  • Potensiometer jenis linier.

2. Rheostat

Gambar bentuk fisik komponen

Rheostat adalah jenis resistor variabel yang bisa bekerja pada tegangan dan arus listrik tinggi. Resistor ini dibuat dari bahan lilitan kawat resistif yang cukup besar, maka diameternya pun cukup besar.

Biasanya resistor jenis ini kerap digunakan dalam laboratorium penelitian. Sedangkan untuk pengaturan nilai resistansi dilakukan dengan cara menyapu yang bergerak pada bagian atas toroid.

3. Preset Resistor (Trimpot)

Gambar contoh komponen

Resistor jenis trimpot ini termasuk kategori variable resistor yang berguna sama seperti potensiometer, namun memiliki ukuran lebih kecil dan tidak terdapat tuas. Sedangkan untuk mengatur nilai resistansinya akan dibutuhkan alat bantu berupa obeng kecil untuk bisa memutar porosnya.

Resistor trimpot sendiri terdiri dari dua jenis, yakni:

  1. Trimpot logaritmik.
  2. Trimpot linear.

3. Thermistor (Thermal Resistor)

Gambar Thermistor

Thermistor merupakan jenis resistor yang nilai resistansinya bisa dipengaruhi oleh suhu (temperatur). Nama dari thermistor sendiri merupakan singkatan dari “Thermal Resistor” yang terdiri dari 2 macam lagi, yakni:

  • Thermistor NTC (Negative Temperature Coefficient), resistansinya akan semakin kecil ketika suhu lingkungan naik.
  • Thermistor PTC (Positive Temperature Coefficient), sebenarnya kebalikan dari NTC, yakni jika semakin tinggi suhu lingkungan sekitar, maka akan semakin besar pula nilai resistansinya.

4. LDR (LIght Dependent Resistor)

Gambar Contoh LDR

LDR atau yang biasa disebut Light Dependent Resistor merupakan jenis resistor yang memiliki nilai resistansi dipengaruhi oleh intensitas cahaya yang diterimanya.

Sebab dari sifatnya ini, maka tidak heran jika LDR akan biasa digunakan pada lampu-lampu yang bisa mati dan hidup secara otomatis. Misalnya pada lampu-lampu jalan yang akan menyala secara otomatis ketika malam hari atau ketika wilayah sekitarnya gelap.

Penurunan resistansi LDR ketika terkena cahaya dengan intensitas tinggi. Begitupun sebaliknya, jika semakin kecil intensitas cahaya yang mengenai permukaannya, maka resistansi LDR akan semakin besar.

Warna Resistor

Gambar contoh warna

Kode warna pada komponen resistor digunakan untuk melihat nilai resistor atau tahanan itu sendiri. Biasanya warna tersebut berupa gelang-gelang atau pita, namun secara keseluruhan resistor memiliki 4 pita warna, ada yang 5 dan ada juga yang 6 warna.

Nilai tahanan pada resistor atau hambatan biasanya akan ditandai dengan satuan Ohm. Jika dilihat dari kemampuan dayanya, maka resistor mempunyai jenis ¼ watt, ½ watt, 2 watt, maka besar nilai watt-nya akan semakin besar pula ukuran resistornya.

Berbagai kode warna yang terdapat pada resistor sudah menjadi standar nasional atau sering Anda dengar dengan istilah standar EIA (Electronic Industries Alliance ). Maka di negara manapun, nilai dan kode warna resistor relatif sama.

Coba perhatikan daftar kode warna resistor dibawah ini:

KodeKode WarnaNilai
HHitam0
CoCoklat1
MeMerah2
OOrange3
KuKuning4
HiHijau5
RuBiru6
ViViolet/Ungu7
AAbu Abu8
TihPutih9
Emas
Perak
Tak Berwarna

Tabel Nilai Resistor

Gambar tabel warna

 

Pada dasarnya cara menghitung nilai resistor tidak terlalu sulit dan rumit, sebab nilai resistansi yang ada sudah ditentukan dalam nilai resistansi tertentu.

Misalnya seperti 10, 100, 120 dan seterusnya yang akan ditampilkan sebagai kode warna pada bagian fisik resistor. Jadi untuk Anda yang sudah terbiasa dalam menghitung gelang resistor akan mengetahui berapa nilainya.

Terdapat beberapa seri nilai hambatan atau resistansi resistor, nama serinya tersebut akan menunjukan berapa banyak nilai dari resistansinya.

Contohnya, untuk seri E6 hanya ada 6 nilai resistor, sementara seri E12 yang sekarang ini banyak digunakan terdiri dari 12 nilai resistor.

  • Nilai resistor seri E6 (Toleransi 20%).
  • Nilai resistor seri E12 (Toleransi 10%).
  • Nilai resistor seri E24 (Toleransi 5% dan 1%).
  • Nilai resistor seri E48 (Toleransi 2%).
  • Nilai resistor seri E96 (Toleransi 1%).
  • Nilai resistor seri E192 (Toleransi 0.5%, 0.25% dan 0.1%).

Apabila diatas tadi Anda sudah mengetahui tabel nilai resistor yang sering digunakan oleh kebanyakan orang. Nah, berikut ini adalah tabel yang menunjukan nilai resistor yang umum saja, yakni seri E12 yang terdiri dari 12 kombinasi angka.

Kode angka

Dalam hal ini Anda jangan beranggapan jika nilai resistor diatas sudah bersifat kaku. Misalnya pada nilai 56, maka artinya bisa saja resistornya memiliki nilai resistansi 5,6 Ohm, 56 Ohm, 560 Ohm, bahkan bisa juga berupa 5.6 Mega Ohm.

Cara Merangkai Resistor

Pada dasarnya terdapat 2 cara untuk merangkai sebuah resistor, yakni seri dan paralel. Untuk lebih mudahnya, coba perhatikan penjelasan dibawah ini:

1. Cara Seri

Bentuk rangkaian resistor secara seri akan menghasilkan nilai resistansi total semakin besar. Coba perhatikan contoh gambar yang saya berikan dibawah ini.

Contoh rangkaian seri

Rumus rangkaian resistor menggunakan cara seri adalah:

Rtotal = R1 + R2 + R3

2. Cara Paralel

Selain rangkaian seri, resistor juga bisa dirakit secara paralel yang akan menghasilkan nilai resistansi pengganti semakin kecil. Coba perhatikan contoh gambar yang saya berikan dibawah ini untuk mempermudah pemahaman Anda.

Contoh rangkaian paralel

Rumus rangkaian resistor menggunakan cara paralel adalah:

1/Rtotal = 1/R1 + 1/R2 + 1/R3

Akhir Kata

Mungkin hanya itu saja sedikit penjelasan yang dapat saya berikan dalam dunia elektronika tentang komponen resistor. Semoga dengan adanya artikel ini akan menambah luas lagi pemahaman dan pengetahuan Anda dalam bidang elektronika, sebab zaman sekarang ini jika tidak mengerti dunia teknik akan ketinggalan jauh dengan yang lain.

Tinggalkan komentar