Cerita Sangkuriang

Cerita Sangkuriang bisa dikatakan sebagai legenda ataupun dongeng yang terkenal di daerah Jawa Barat. Kisah ini menceritakan tentang cikal bakal terbentuknya gunung Tangkuban Perahu, yakni gunung yang terletak di utara kota Bandung.

Terdapat sebuah penjelasan dari Metasastra tahun 2012, bahwa sangkuriang adalah kisah legenda yang menceritakan asal-usul terciptanya gunung Tangkuban Perahu.

Dulunya cerita rakyat sangkuriang ini beredar dari mulut ke mulut di masyarakat Tatar Sunda.

Pada akhirnya cerita sangkuriang diangkat menjadi sebuah mahakarnya yang sudah di dramakan dan dijadikan sebuah bentuk film kartun yang sangat disukai oleh anak-anak. Sebab ceritanya yang menarik dan mudah dipahami bagi semua kalangan, mulai dari anak kecil hingga orang dewasa.

Nah, penasaran dengan cerita sangkuriang? Dibawah ini akan saya jelaskan cerita sangkuriang dalam bahasa Indonesia.

Dewa dan Dewi di Khayangan Melakukan Keasalahan

Gambar grafis Sangkuriang

Cerita diawali dengan dikisahkan pada zaman dahulu dikhayangan, terdapat dua orang Dewa dan Dewi yang melakukan kesalahan yang cukup besar. Akibat dari kesalahan tersebut, keduanya harus dihukum dengan cara dibuang dari khayangan ke dunia.

Sebagai bentuk penebus kesalahannya, mereka berdua dikutuk menjadi babi hutan dan seekor anjing.

Dewa yang dikutuk menjadi anjing memiliki nama berupa Tumang. Ia mengabdi kepada seorang Raja cukup terkenal pada masa itu yang bernama Prabu Perbangkara.

Sementara sang Dewi yang menjadi babi hutan bernama Wayung Hyang. Sebagai cara menebus kesalahannya, sang Dewi atau Wayung Hyang harus melakukan perbuatan baik di hutan.

Pada suatu hari, Prabu Perbangkara pergi untuk melakukan kegiatan berburu ke dalam hutan. Kebetulan saat itu lokasi berburu Prabu Perbangkara sangat dekat dengan tempat tinggal Wayung Hyang.

Prabu Perbangkara yang telah melakukan kegiatan berburu selama seharian tiba-tiba merasa ingin buang air kecil. Ia kemudian buang air kecil di balik pohon, ketika sudah selesai mereka melanjutkan kegiatan berburunya.

Ketika itu dari dalam hutan seekor babi hutan betina jelmaan dari Dewi Wayung Hyang kehausan mencari air. Kebetulan juga di depannya terdapat air di dalam sebuah batok kelapa yang ternyata adalah air kencing dari Prabu Perbangkara.

Sebab sudah tidak kuat menahan haus, akhirnya ia meminum air kencing dari Prabu Perbangkara yang tertampung di dalam batok kelapa. Namun ada kejadian ajaib, ketika sudah meminum air tersebut, babu hutan jelmaan Dewi Wayung Hyang menjadi hamil.

Tidak lama berselang, babi hutan tersebut melahirkan seorang bayi perempuan berwujud manusia. Kebetulan juga hari ini bertepatan dengan waktu Prabu Perbangkara melakukan perburuan.

Dari kejauhan sekitar semak-semak terdengar suara tangisan seorang bayi, Tumang Menggonggong. Prabu Perbangkara yang mendengar suara tersebut akhirnya segera beralih mencari sumber suara tangisan bayi.

Si Tumang segera berlari mendahului Perbangkara dan menggonggong keras di sekitar bayi perempuan itu. Ketika sampai di tempat bayi perempuan itu, Prabu Perbangkara langsung menggendong bayi perempuan tersebut.

“Bayi siapa ini?”, Ujar dari Prabu Perbangkara kepada para pengawalnya, dan mereka pun hanya terdiam.

Akhirnya Prabu Perbangkara mengakhiri kegiatan berburu, serta sangat gembira karena menemukan seorang bayi perempuan yang sangat cantik.

Bayi yang sangat cantik dan menggemaskan tersebut diberikan nama sebagai Dayang Sumbi. Ia kemudian diasuh oleh keluarga dari Prabu Perbangkara hingga tumbuh dewasa.

Dayang Sumbi yang tumbuh dewasa menjadi seorang putri yang mempunyai paras luar biasa cantiknya. Bahkan dikisahkan bahwa berita kecantikannya terdengar hingga kerajaan tetangga.

Bukan hanya itu saja, banyak sekali raja dan pangeran dari berbagai kerajaan tetangga yang memperebutkan Dayang Sumbi untuk dijadikan selir ataupun permaisuri.

Demi mendapatkan Dayang Sumbi, tidak jarang juga harus berakhir di medan peperangan dari berbagai kerajaan. Dayang Sumbi pun sangat terganggu dengan keadaan tersebut.

Sebagai upaya untuk mengatasi hal ini, Dayang Sumbi kemudian meminta kepada ayahnya, yakni Prabu Perbangkara untuk hidup menyendiri di tengah hutan.

Sebab melihat situasi yang menjadi semakin kacau dikarenakan merebutkan Dayang Sumbi. Akhirnya ayahnya pun memberikan izin untuk Dayang Sumbi tinggal dan menyendiri di sebuah pondok tepi hutan.

Prabu Perbangkara pun sangat sayang sekali dengan putrinya tersebut, bahkan ia menawarkan pengawal di pondok tersebut, namun ditolak oleh Dayang Sumbi secara halus.

Sebab ia ingin hidup tentang sebagaimana rakyat jelata tanpa ada yang mengetahui identitas yang sebenarnya. Oleh karena itu, Prabu Perbangkara hanya menyuruh Si Tumang anjing kesayangannya untuk menemani Dayang Sumbi.

Pada akhirnya, mereka berdua berangkat ke pondok tepi hutan hanya diantar sampai tujuan oleh beberapa prajurit lalu mereka meninggalkannya bersama Si Tumang.

Si Tumang

Gambar Si Tumang dalam legenda Sangkuriang

Dayang Sumbi kemudian sangat menikmati kehidupan barunya di pondok tepi hutan tersebut. Kegiatan kesehariannya hanyalah menenun dan menjadi salah satu aktivitas yang disukainya.

Kehidupan Dayang Sumbi sangatlah nyaman sebab setiap pekan ada prajurit yang bertugas mengantarkan suplai makanan dan pakaian untuk Dayang Sumbi.

Namun suatu hari, pada saat ia sedang menenun di sebuah bale-bale pondok, terdapat salah satu alat tenunnya yang tidak sengaja jatuh ke tanah. Kebetulan juga saat itu Dayang Sumbi dalam kondisi malas bergerak mengambil alat tersebut.

Ia kemudian spontan bersumpah akan menikahi siapa saja yang mengambilkan alat tenun yang jatuh. Nah, disinilah alat tenun tersebut tidak sengaja diambil anjing jelmaan Si Tumang tersebut.

Ucapan sumpah yang telah keluar dari bibirnya tidak bisa ditarik kembali. Oleh karena itu, demi memenuhi sumpah yang telah diucapkannya tersebut, ia akhirnya menikahi Si Tumang anjing Prabu Perbangkara.

Dayang Sumbi Mengandung

Gambar ilustrasi Dayang Sumbi

Suatu hari ketika Prabu Pebangkara mengetahui Dayang Sumbi yang sedang hamil sangatlah murka. Pada saat ditanya siapa ayah dari anak yang dikandungnya, ia hanya menjawab bahwa telah menikahi SI Tumang.

Mendengar jawaban tersebut Prabu Perbangkara semakin meradang “Jangan mengada-ngada kau Dayang Sumbi!, Apakah kamu sudah gila?” Jawabannya dengan nada lirih serta raut wajah yang ketakutan.

“Ini sangatlah tidak masuk akal”, nada bentakan dari Prabu Perbangkara lagi.

Prabu Perbangkara yang malu kemudian mengasingkan Dayang Sumbi ke pondok di tepi hutan, namun sekarang ini suplay makanan dihentikan.

Akan tetapi, ada satu hal yang disembunyikan Dayang Sumbi kepada ayahnya bahwa Si Tumang adalah anjing jelmaan Dewa.

Ketika bulan purnama bersinar, Si Tumang bisa berubah menjadi sosok lelaki tampan dan sangat gagah. Namun semua kejadian itu tidak diceritakan kepada ayahnya, sebab ia tahu jika menceritakannya akan dianggap lebih sinting oleh ayahnya.

Cerita Sangkuriang

Cerita rakyat Sangkuriang

Sembilan bulan dikandungan sudah terlewati, Dayang Sumbi kemudian melahirkan seorang anak laki-laki yang sangat tampan sekali. Anaknya tersebut sangat mirip sekali dengan SI Tumang ketika berwujud Dewa atau manusia.

Dayang Sumbi kemudian memberikan nama Sangkuriang, yang lambat laun tumbuh menjadi laki-laki sangat tangkas.

Sangkuriang yang semakin besar memiliki kegiatan yang sangat disukainya berupa berburu. Ia sangat terampil dan pintar sekali dalam berburu.

Pada suatu haru, Dayang Sumbi sangat ingin sekali memakan hati dari seekor rusa. Maka dengan senang hari Sangkuriang berangkat berburu ke dalam hutan di temani oleh Si Tumang.

Akan tetapi, setelah seharian berburu rusa yang dicari-cari tidak kunjung pula didapatkan. Nah, dalam keadaan inilah ia memiliki ide untuk mengganti berburu babi hutan.

Namun ketika mencari hewan buruannya, ia melihat seekor babi hutan yang sedang melintas. Ia kemudian memerintahkan Si Tumang untuk mengejarnya dengan gesit segera mengejar babi hutan tersebut.

Alangkah terkejutnya Si Tumang ini, bahwa babi yang dikejarnya tersebut adalah babi hutan jelmaan dari Dewi Wayung Hyang.

Akhirnya Si Tumang segara menjauh dan melepaskan babi hutan jelmaan dari Dewi tersebut. Tumang hanya terdiam menatap wajah tuannya yang sedang memarahinya.

Hati Si Tumang

Gambar sangkuriang membunuh Si Tumang

“Tumang, apa yang kau lakukan tadi? kau melepaskan jatah makan kita untuk beberapa hari kedepan!”. Bentakan dari Sangkurian, sementara Si Tumang hanya diam dan menundukan kepala.

Bahkan Sangkuriang juga mengancam dengan mengarahkan busur anak panahnya kepada Tumang untuk menakutinya.

Tapi naasnya, anak panah yang dipegang Sangkuriang terlepas, segara anak panah tersebut melesat kencang dari busurnya mengenai Si Tumang tepat di jantungnya.

Sangkuriang spontan sangat terkejut, ia merasa sangat bersalah telah membunuh anjing kesayangan ibunya yang bahkan sudah ada sejak ia belum dilahirkan.

Akhirnya dengan perasaan campur aduk, ia mengabil hati Si Tumang untuk dibawa pulang. Sesaimpainya dirumah, ia kemudian memeberikan daging hati tersebut kepada Dayang Sumbi atau ibunya itu.

Namun hari itu tidak sama seperti hari-hari biasanya yang ia sangat riang, kini wajahnya seperti menyembunyikan sesuatu.

Dayang Sumbi yang pada hari itu sedang senang belum menyadari bahwa hari yang dia makan bersama Sangkuriang adalah hati Si Tumang.

Setelah keduanya memakan daging hati tersebut, Dayang Sumbi lalu menanyakan keberadaan Si Tumang yang belum terlihat semenjak kepulangan Sangkuriang. Sangkuriang pun yang masih polos dengan jujur mengaku bahwa ia tidak sengaja membunuhnya.

Ia juga mengatakan bahwa ia telah berburu seharian dan tidak mendapatkan seekor rusa. Pada saat ia mencarikan penggantinya dengan babi hutan, tidak sengaja anak panahnya mengenai Si Tumang.

Mendengar perkataan tersebut, mendadak wajah Dayang Sumbi memerah, air matanya berjatuhan dari pipinya.

“Apa yang kau lakukan Sangkuriang?, Si Tumang adalah ayahmu, kau telah membunuh ayah kandungmu sendiri”

Dayang Sumbi kemudian mengambil centong nasi kemudian memukul kepala Sangkuriang hingga berdarah.

“Ampun bu, Sangkuriang tidak tahu.” Sangkuriang yang masih belum mengerti segera berlari meninggalkan pondok tempat dimana mereka berdua tinggal sembari menangis sejadi-jadinya.

Dayang Sumbi yang menyadari bahwa ia sudah melukai anak semata wayangnya kemudian menyesal, namun sudah terlambat. Sangkuriang sudah menghilang di balik rerumbunan hutan yang sangat lebat.

Sebagai upaya meredam perasaan sedihnya, Sayang Sumbi bertapa, dari pertapaannya Dayang Sumbi memiliki anugrah berupa umur panjang dan awet muda.

Pengembaraan Sangkuriang

Ilustrasi pengembaraan dari Sangkuriang

Cerita Sangkuriang berlanjut dengan sebelumnya yang berlari ke hutang dengan kepala berdarah akhirnya jatuh pingsan ditengah jalan.

Pada saat sudah sadar, ia telah berada di sebuah gubuk tua dengan samar-samar melihat bayangan kakek tua sedang mengobati lukanya.

“Akhirnya kamu bangun juga nak!” ujar si kakek tua yang mengobatinya.

“D….Dimana aku?. kakek siapa?” ujar Sangkuriang panik.

“Tenanglah dulu nak, jangan banyak bergerak dulu, sebab lukamu masih basah!” ujar kakek tua dan Sangkuriang hanya terdiam.

“Apa yang sebelumnya telah terjadi padamu nak? dimana orangtuamu? Apakah kamu baru saja dirampok? Tapi kelihatannya kamu bukan kaum bangsawan” ujar si kakek.

“Aku tidak ingat apa-apa kek!” Perkataan Sangkuriang sebab ia lupa ingatan setelah kepalanya dipukul oleh Dayang Sumbi.

Singkat cerita Sangkuriang kemudian berguru kepada banyak orang sakti dan tumbuh menjadi sosok pria tampan yang gagah dan sakti.

Ia sudah kerap keluar masuk hutan dan banyak makhluk makhluk buas di dalam hutan beserta bangsa lelembut. Mereka semua tunduk kepada Sangkuriang berkat kesakitannya.

Namanya kemudian terkenal dimana-mana sebab mempunyai kesaktiaan yang sangat hebat, disamping itu dia juga sangat gagah dan tampan. Kabar cerita Sakunguriang sudah banyak tersebar dari satu kampung ke kampung lain yang membuat namanya semakin tersohor.

Pertemuan dengan Dayang Sumbi

Gambar ilustrasi pertemuan dengan Dayang Sumbi

Cerita Sangkuriang berlanjut pada suatu hari di dalam perjalanannya bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik rupawan.Tak lain dan tak bukan, ia adalah Dayang Sumbi ibu kandungnya sendiri.

Ketika pertama kali bertemu saja keduanya saling menatap dan sama-sama jatuh cinta. Akan tetapi disini Dayang Sumbi belum menyadari bahwa lelaki itu adalah anaknya sendiri.

Dayang Sumbi sangat terpesona dengan ketampanan Sangkuriang, begitupun sebaliknya.

Sebab merasa cintanya disambut Sangkuriang, maka beliau berniat untuk menikahi Dayang Sumbi, dengan senang hati ia pun menerimanya. Namun pada suatu hari ketika mereka sedang berduaan di sebuah bukit, Sangkuriang berebahan di pangkuan Dayang Sumbi.

Ketika Dayang Sumbi menyisir rambut Sangkuriang, ia pun terdiam sejenak. Sebab disinilah ia teringat cerita ketika masih kecil pernah memukul Sangkuriang di bagian kepalanya.

Dayang Sumbi sangat jelas sekali melihat bekas luka yang terdapat di kepala Sangkuriang dan membuatnya semakin penasaran serta menanyakan darimana luka itu ia dapatkan.

Namun Sangkuriang tidak begitu ingat dengan jelas darimana lukanya ia dapatkan, hanya saja ketika kecil kepalanya pernah terluka dan diselamatkan oleh kakek baik hati.

Kenyataan yang Pahit

Ilustrasi dari cerita Sangkuriang

Dayang Sumbi yang mendengar cerita itu seketika menghela nafas panjang, wajahnya pun berubah menjadi tegang. Ia mencoba memberikan penjelasan pada Sangkuriang bahwa ia adalah anak dari Dayang Sumbi.

Namun Sangkuriang menolak percaya dengan apa yang telah dikatakan Dayang Sumbi kepadanya.

“Tidak mungkin kau ibuku, jika memang benar kau ibuku pasti kau sudah tua!” Sangkuriang menyangkal perkataan Dayang Sumbi.

“Oooo… atau jangan-jangan sudah ada laki-laki lain?” Ujar Sangkuriang kepada Dayang Sumbi.

“Dengarkan aku Sangkuriang, aku adalah ibumu dan engkau adalah anakku!”. Ujar Dayang Sumbi, namun Sangkuriang yang sudah dimabuk cinta kehilangan akal sehatnya.

Untuk menghindari konflik yang lebih buruk, pada akhirnya Dayang Sumbi menolak dengan halus.

Di dalam cerita Sangkuriang ini, ia diberikan syarat supaya membuat danau lengkap dengan perahu dalam waktu satu malam saja. Inilah syarat yang diberikan Dayang Sumbi kepada Sangkuriang jika ingin menikah dengannya.

Dayang Sumbi pun berfikir bahwa dengan memberikan syarat tersebut akan membuat Sangkuriang mundur. Namun dugaan Dayang Sumbi salah, demi cintanya Sangkuriang yang sangat besar akhirnya ia menyanggupi persyaratan yang mustahil tersebut.

Sejarah Tangkuban Perahu

Ilustrasi asal mula gunung tangkuban perahu

Pada suatu hari di sebuah tanah lapang, Sangkuriang kemudian memanggil semua bala bantuannya dari bangsa lelembut. Sangkuriang pun memberikan perintah kepada mereka untuk membantunya membuat danau dalam waktu semalam saja.

Tidak menunggu lama, mereka semua langsung mulai bekerja, pertama-tama Sangkuriang mulai menebang pohon di hutan dengan jumlah banyak. Lokasi bekas penebangan sekarang ini dikenal dengan nama Gunung Bukit Tanggul.

Sedangkan potongan ranting dan dahan yang tidak terpakai ditumpuk saking banyaknya hingga menjadi Gunung Burangrang.

Tak terasa waktu sudah berjalan separuh malam dan perahu pun sudah selesai dikerjakan oleh Sangkuriang beserta bala bantuannya. Kemudian ia dan bala bantuannya mulai membangun sebuah danau.

Dayang Sumbi yang mengawasinya dari kejauhan dibuat panik, sebab syarat yang diajukannya perlahan mulai terwujud.

Melihat itu, Dayang Sumbi pun tidak tinggal diam saja, di dalam cerita Dayang Sumbi berdoa kepada Sang Hyang Tunggal untuk menggagalkan usaha Sangkuriang.

Permintaan Dayang Sumbi kemudian dikabulkan dengan mendapatkan ilham untuk mengibarkan kain hasil tenunannya ke arah timur. Maka dari arah timur kain dikibarkan, tiba-tiba ada cahaya merah seperti cahaya matahari pertama kali muncul di pagi hari.

Secara serentak bala bantuannya dari bangsa lelembut Sangkuriang menghilang ke dalam tanah, sebab mereka mengira sudah pagi. Melihat itu, Sangkuriang sangat murka, danaunya hampir selesai namun pagi sudah tiba.

Dia sangat malu sekali sebab usaha yang dilakukannya sudah gagal, padahal ia percaya sekali dengan kesaktian yang ia miliki.

Akhirnya Sangkuriang mengamuk dan kapal yang sudah jadi kemudian ditendang dengan keras serta terbang melayang jauh. Perahu tersebut jatuh tengkurap dalam sekejap berubah menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

Sumbat yang dipakai untuk membendung sungai citarum pun dibuang kearah timur hingga menjadi Gunung Malangyang.

Akhir Cerita Sangkuriang

Ilustrasi akhir cerita Sangkuriang

Cerita sangkuriang singkat ini dilanjutkan dengan Sangkuriang yang mulai kalap segera berlari mengejar Dayang Sumbi.

“Dayang Sumbi, apapun yang terjadi kau harus tetap menjadi istriku!” teriak Sangkuriang sambil berlari mengejar Dayang Sumbi.

Dayang Sumbi pun segera berlari ke arah Gunung Putri.

Ketika dalam pelariannya, ia memohon kepada Sang Hyang Tunggal untuk diselamatkan dari Sangkuriang.

Sang Hyang Tunggal pun mengabulkan permohonan dari Dayang Sumbi lagi. Ia kemudian menghilang dan menjelma menjadi bunga jaksi.

Sangkuriang pun masih tidak percaya bahwa dirinya tidak bisa menangkap Dayang Sumbi yang berlari lebih pelan darinya. Ia terus mencarinya hingga ke Ujung Berung lalu tersesat di alam gaib, cerita Sangkuriang akhirnya berakhir.

Pesan Moral dari Cerita Sangkuriang

Gambar ilustrasi cerita rakyat Sangkuriang

Setelah membaca ringkasan cerita Sangkuriang diatas, maka bisa diperoleh beberapa kesimpulan dan pesan moral sebagai berikut:

  1. Sebaiknya kita harus menjaga baik-baik lisan, sebab jika salah ucap bisa mengakibatkan hal-hal fatal.
  2. Janganlah mencintai sesuatu secara berlebihan, sebab hal yang berlebihan juga tidak baik.
  3. Jangan suka berbohong kepada orang tua.
  4. Belajar mengandalikan hawa nafsu dan emosi juga penting.
  5. Jangan selalu menuruti hawa nafsu belaka.

Nah, mungkin hanya itu saja penjelasan yang dapat saya berikan tentang cerita Sangkuriang untuk Anda. Semoga dengan adanya artikel ini bisa membantu dan menambah pengetahuan Anda ya.

Tinggalkan komentar