Tari Tayub Jawa Tengah

Tari Tayub dari daerah Blora Jawa Tengah
https://riverspace.org/

Tari Tayub – merupakan kesenian tari tradisional yang berasal dari daerah  Jawa Tengah, serta bersumber dari Kerajaan Jawa Kuno. Bisa dikatakan juga, bahwa tarian tayub ini sudah berumur sangat tua, serta menjadi awal mula terciptanya tari gambyong.

Tari tayub atau biasa disebut tayuban hingga saat ini masih tetap berkembang dan masih banyak peminatnya, khususnya di daerah Jawa Timur serta Jawa Tengah. Tarian ini memiliki unsur keindahan dan keserasian gerak yang dilakukan oleh para penari dan penabuh musik.

Apabila dilihat sekilas, tarian tayub ini mempunyai kesamaan dengan jaipongan di Jawa Barat. Dulunya tarian ini lebih digunakan dalam rangkaian upacara yang bersifat religius, tujuannya adalah sebagai permohonan keselamatan kepada Tuhan sebagai rasa syukur.

Nama tayub sendiri berasal dari dua suku kata, yakni “tata” yang berarti aturan dan “guyub” yang artinya bersatu atau rukun. Jadi bisa diartikan sebagai bentuk tari yang ditata dengan teratur sehingga memunculkan kerukunan atau bersatu padu.

Nah, apa saja sih informasi seputar tarian ini, apa jangan-jangan kalian belum mengerti? Untuk menambah pengetahuan, silahkan simak penjelasan dibawah ini.

Asal Mula Tayub

Awal mula adanya tarian tayub Jawa Tengah

Istilah tayub sendiri di dalam kamus Bau Sastra Jawa Indonesia yang dikarang oleh Prawira Atmaja memiliki arti bersenang-senang dengan mengibing bersama tandak. Dengan kata lain bisa disebut bersama ledek, penjoged atau ronggeng.

Terlepas dari itu, ada juga yang menafsirkan tayub sebagai ditata dan guyub, maksudnya adalah diatur dengan baik guna menjaga kerukunan di antara sesama. Tak hanya itu saja, banyak yang menghubungkan antara kata tayub dengan nayub.

Menurut Perbatjaraka (1945), nayub diartikan bukan berasal dari kata tayub, namun bersumber dari kata sayub. Artinya adalah untuk menyebutkan makanan yang sudah hampir basi atau menjadi tape.

Sementara penafsiran nayub sendiri berasal dari kata syub (sayu-sajeng, wayu-wajeng) yang menunjukan minuman keras. Maksudnya adalah menari dengan minuman keras, yakni di dalam pertunjukan tayub tidak pernah lepas dari yang namanya minuman keras.

Sejarah Tari Tayub

Asal usul terciptanya tayuban

Catatan sejarah tari tayub bersumber ketika masa Kerajaan Singasari, yakni ketika Tungul Ametung menjadi raja. Kesenian tayub ketika itu berfungsi sebagai acara karesmen, yakni acara yang dilakukan setelah upacara penobatan.

Pada saat raja sedang menari bersama ledhek, tradisi semacam itu berlaku ketika masa Kerajaan Majapahit. Akan tetapi, ketika masa Kerajaan Demak, acara ini kemudian dihilangkan, sebab tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.

Ketika masa berdirinya Kerajaan Mataram, yakni Sultan Agung, tarian tayub digali dan digunakan lagi sebagai bagian tradisi jumeneng di Keraton. Hingga akhirnya tarian ini dilakukan secara turun temurun hingga Keraton Surakarta Hadiningrat.

Dulunya para penari wanita yang memainkan tarian ini biasa disebut dengan dedengkik sontrang. Kemudian oleh Gusti Pangeran Arya Adipati Mangkunegara I atau lebih sering disebut dengan Pangeran Samber Nyawa, tarian ini dijadikan kesenian untuk menghibur para pasukan kerajaan.

Oleh karena itu, fungsi tayub dulunya adalah sebagai acara jumenengan raja lalu menjadi tari untuk penghormatan tamu agung dan untuk acara tasyukuran bagi pejabat yang akan mengemban tugas baru.

Namun akhir-akhir ini fungsinya cenderung ke dalam jenis tari pergaulan. Untuk tari pergaulan pada umumnya lebih bernuansa hiburan atau untuk kesenangan belaka.

Mulai abad ke-XX, tarian ini sering dilombakan untuk sarana pelestarian kesenian tradisional Jawa. Kesenian tari ini juga banyak diminati oleh kaum bangsawan atau kaum elite ketika mengadakan hajatan.

Untuk para penari tayub yang cukup terkenal adalah sebagai berikut:

  1. Ny Pantes.
  2. Nyi Den Sri.
  3. Nyi Sukarini.
  4. Ny Menik.
  5. Nyi Karmini.
  6. Ny Suwarni.
  7. Nyi Tumini.

Semua penari tersebut sebagian besar berasal dari Solo.

Baca Juga Tari Topeng Cirebon

Fungsi Tarian Tayub

Tarian tayub berfungsi sebagai media hiburan

Tidak jauh berbeda dengan penjelasan sebelumnya, bahwa tarian ini dulunya digunakan sebagai pengisi upacara jumenengan, pemberangkatan panglima ke medan perang dan lain-lain. Namun perkembangannya semakin luas, menjadikan fungsi tari ini tidak hanya bersifat sakral namun juga sebagai tari pergaulan, bersifat erotis dan romantis.

Sedangkan perkembangan paling akhir dari tayub adalah sebagai tari-tarian profan. Maksudnya adalah tarian yang langsung berhubungan dengan masyarakat atau disebut tari pergaulan atau sarana kesenangan belaka.

Tayub sebagai bentuk tarian yang bersifat sakral juga bisa bersifat pertunjukan dan kesenian. Jika dilihat dari sejarahnya, tarian ini memang sebagai keperluan yang sakral, akan tetapi dengan semakin perkembangan zaman menjadi tarian pergaulan.

Tarian tayub umumnya akan dilakukan oleh penari pria dan wanita secara berpasangan. Oleh para kaum petani Jawa, tarian ini dipertunjukan sebagai ritual yang melambangkan kesuburan.

Pertunjukan tarian ini juga bermacam-macam, ada yang romantis bisa juga erotis. Hal ini dapat dilihat pada ketika penampilan tayub berlangsung, para tamu mendapat persembahan sampur dari penari atau ledhek.

Untuk tamu yang memperoleh sampur sebelumnya, kemudian akan ikut menari atau ngibing bersama dengan ledhek yang diiringi musik gamelan sesuai gendhing yang sudah dipesan.

Sebab dari gerakannya yang sangat erotis, terkadang ditafsirkan lain oleh para penonton. Bahkan ada juga yang menjurus ke perbuatan yang berupa asusila.

Makna Dan Filosofi Tari Tayub

Filosofi yang terkandung dalam tayuban

Di dalam adat Jawa, kesenian tayub mempunyai nilai-nilai positif yang adiluhung. Tarian ini juga mengandung nilai-nilai spiritual, pemahaman hidup manusia dengan tuhan, dan mengajarkan tentang jati diri manusia.

Dalam cerita Jawa, asal mula tayuban sendiri memiliki hubungan erat dengan kisah kedawetan (dewa-dewi), yakni dimana para dewi melakukan tarian secara berjajr dengan tubuh serasi atau guyub.

Merujuk dari hal tersebut, tarian tayub dalam masyarakat Jawa digunakan sebagai bagian dari upacara adat dan untuk ajang pergaulan antar sesama masyarakat.

Sedangkan dalam penafsiran kejawen, tari tayub memiliki makna filosofis berupa jati diri manusia dengan sifat keempat nafsu. Oleh karena itu, di dalam penampilan tari ini, penari pria menjadi bagian sentral penggambaran keberadaan nafsu mulhamah.

Keberadaan empat orang penari pria pendamping biasa disebut dengan pelarih. Yakni memberikan penggambaran tentang empat sifat nafsu manusia berupa alumah (hitam), amarah (merah), sufiah (kuning) dan mutmainah (putih).

Sedangkan ledhek (penari) berupa penggambaran cita-cita keselarasan hidup sebenarnya yang diinginkan manusia.

Gerakan Tari Tayub

Ragam gerakan tari tayub

Gerakan yang dilakukan oleh penari juga berfungsi sebagai vokalis atau pesinden. Biasanya gerakan yang dilakukan hanya bersifat spontan dan tidak memiliki urutan yang pakem, seperti seblak smapur, ulap-ulap, dan ulap tawing.

Sedangkan struktur gerakan tari tayub sendiri berupa warisan turun temurun dari generasi sebelumnya lalu digunakan generasi selanjutnya. OIeh karena itu, tayub tidak dipelajari secara khusus, namun hanya meniru (imitation) yang langsung digunakan ketika menari.

Selain dari penari tayub, ada juga yang namanya pengibing yang cenderung spontanitas dan improvisasi (tidak tetap). Namun pada dasarnya, semua ragam gerak yang dilakukan tidak terlepas dari gaya Surakarta, diantaranya:

  1. Lumaksono.
  2. Besut.
  3. Tanjak.
  4. Sabetan.
  5. Srisig.

Selain itu, deskripsi dari gerakan tari tayub adalah sebagai berikut:

  • Mundur Beksan, adalah gerakan lumaksana dengan mengikuti gending kemudian seblak sampur, ulap-ulap dan ulap taweng. Gerakan ini akan diulang-ulang dengan diikuti pindah gawang (penari akan berpindah tempat).
  • Beksan, yakni penari akan melakukan gerakan spontan dan improviasi dengan berhadapan ke penayub. Namun dibagian luar penari tayub (mengelilingi) gerakan menggunakan seblak sampur, ulap-ulap dan semua itu dimantapkan dengan iringan yang diinginkan.
  • Mundur Beksan, adalah gerakan lumaksana hadap belakang lalu putar kembali hadap dengan seblak sampur.

Kostum Tari Tayub

Kostum yang digunakan penari tayub

Pastinya setiap tarian tradisional memiliki kostum yang menjadi ciri khas dari tarian tersebut. Begitupun dengan tari tayub, ksotum yang digunakan biasanya berupa pakaian tradisional Jawa.

Pada awalnya para penari hanya menggunakan kain panjang dan kemben hingga dada. Sedangkan untuk menutupi bahu, para penari akan menutupnya dengan kain sampur sebagai properti utamanya.

Namun sekarang ini, para penari ada juga yang menggunakan kain panjang dan baju lengan pendek, sehingga terlihat lebih sopan.

Iringan Tari Tayub

Alat musik yang digunakan dalam tayuban

Musik pengiring atau gending tayub berfungsi untuk menciptakan suasana yang diinginkan dan memberikan tekanan pada gerak sehingga akan lebih mantap. Sedangkan untuk penekanan pada kendang dan ricikan-ricikan balungan seperti saron demung serta saron barung.

Baca Juga Tari Kipas Pakarena

Pertunjukan Tarian Tayub

Penampilan tarian tayub

Kesenian tayub biasanya akan melibatkan sekitar 17 orang dengan 2 wanita sebagai ledhek, 2 orang sebagai waranggana atau vokalis pria yang disebut gerong. Sedangkan untuk 13 orang lainnya berguna sebagai penabuh gamelan dan sutradara.

Dulunya para penari akan menggunakan kain panjang, kemben, selendang dan juga sampur sebagai properti tari tayub. Namun saat ini, hal itu mulai diisolasikan dengan kostum budaya baru menggunakan kain panjang dan baju lengan pendek.

Sedangkan untuk bagian rambut penari akan disanggul dengan gaya asli Solo dan riasan wajah penari yang cantik, anggun serta menawan. Bunyi suara gamelan akan dimulai terlebih dulu untuk mengawali pertunjukan, kemudian dilanjut para penari keluar untuk menunjukan gerakan-gerakan indah tarian tayub.

Apabila sebelumnya tarian ini hanya ditampilkan menggunakan tikar dan jarak antara penonton dengan penari sangatlah dekat. Namun sekarang ini telah dibuatkan sebuah panggung yang bertujuan untuk memberikan batas antara penonton dan penari.

Jika dulunya tarian ini dipentaskan sebagai ajang menari sembari meminum minuman keras. Akan tetapi saat ini sudah ada aturan tentang dilarang mengkonsumsi minuman keras dan menjadikan tarian ini murni sebagai pertunjukan seni.

Perkembangan Tari Tayub

Perkembangan tarian tayub dari masa ke masa

Sekitar abad ke-20, tarian tayub sering digunakan oleh kaum darah biru ataupun elite ketika sedang mengadakan acara. Tarian ini awalnya berguna sebagai acara jumenengan raja, kemudian berpindah menjadi tari sambutan untuk menghormati tamu agung.

Tarian ini terus berkembang hingga menjadi bagian dari rangkaian upacara syukuran atau keselamatan bagi pejabat yang menerima jabatan baru. Hingga saat ini, tarian tayub masih difungsikan sebagai tari pergaulan yang sifatnya hiburan atau profan.

Sementara kaum petani sering menggunakannya sebagai tarian ritual yang menggambarkan kesuburan dari tanah mereka dan biasa dilakukan setelah masa panen.

Selain itu, ada nilai romantis yang terdapat di dalam gerakannya, namun dulunya lebih mengarah kepada erotis. Oleh karena itu, pada zaman dahulu tarian ini dilakukan ketika malam hari hingga menjelang subuh.

Namun sekarang ini sudah mulai diterapkan pertunjukan di pagi hari maupun siang hari.

Bukan hanya itu saja, sekarang ini tari tayub sering digunakan untuk mengisi dalam rangkaian acara pernikahan. Biasanya tarian ini akan dimulai ketika mempelai pria dan wanita dipertemukan.

Pola Lantai Tari Tayub

Jenis pola lantai yang digunakan dalam tayuban

Pola lantai atau yang lebih akrab di sebut desain lantai merupakan garis-garis yang dilewati para penari, atau perpindahan tempat untuk pemerataan ruang dengan cara menari sembari melangkah untuk berpindah.

Perpindahan yang dilakukan tersebut dilakukan dengan aba-aba kendang, baik perpindahan melingkar atau berpindah tempat dengan penari lainnya.

Jadi, pola lantai yang digunakan dalam tari tayub adalah pola lantai garis lurus dan garis lengkung.

Baca Juga Tari Bungong Jeumpa

Akhir Kata

Akhirnya tiba di penghujung artikel,  sebagai pelengkap saya ucapkan terimakasih atas kesediaannya untuk membaca artikel yang saya berikan ini. Mungkin hanya itu saja sedikit penjelasan yang dapat saya berikan tentang tari tayub. Semoga dengan adanya penjelasan tari ini dapat menambah pengetahuan budaya Anda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like