Tari Sintren Cirebon

Gambar penari sintren Cirebon dimasukkan kurungan ayam
https://riverspace.org/

Tari Sintren – merupakan kesenian tradisional berasal dari wilayah sekitar Pulau Jawa sebelah barat, yakni daerah Cirebon. Tarian ini juga berkembang dan cukup terkenal di daerah pantai utara Jawa Barat dan Jawa Tengah, seperti Banyumas, Brebes, Indramayu, Jatibarang, Kuningan, Majalengka, Pekalongan, Pemalang dan Tegal.

Lalu bagaimana penyebaran tari sintren ini hingga ke berbagai daerah lain tersebut? Faktor utama yang mendukung penyebaran tari ini sebab kepopulerannya di berbagai daerah pesisir.

Tentunya setiap kesenian tradisional memiliki makna dan keunikan yang menjadi ciri khasnya tersendiri. Begitupun dengan jenis tarian sintren ini, terdapat makna filosofi yang terkandung di dalamnya dan juga berbagai keunikan tersendiri.

Namun apakah sebelumnya Anda sudah mengenal tari tradisional dari daerah Cirebon ini? Pastinya kurang lengkaplah sebagai warga negara Indonesia tidak mengerti berbagai ragam kebudayaan yang dimilki.

Oleh karena itu, untuk menambah pengetahuan Anda, langsung saja kita pelajari penjelasan tentang tarian sintren dibawah ini.

Sejarah Tari Sintren

Gambar penari sintren bersama pawang

Jika mengacu pada catatan sejarahnya, awal mula munculnya tari sintren adalah dari cerita Sulandono anak dari Ki Bahurekso (Bupati Kendal), yakni hasil pernikahannya dengan Dewi Rantamsari yang biasa dijuluki Dewi Lanjar.

Raden Sulandono ini kemudian menjalin asmara dengan Sulasih, yakni seorang putri dari Desa Kalisalak. Akan tetapi hubungannya tidak mendapatkan restu dari ayahnya Ki Bahurekso, dan akhirnya beliau memutuskan untuk bertapa serta Sulasih menjadi penari.

Walaupun begitu, pertemuan kedua pasangan ini masih terus berlangsung melalui alam gaib. Dewi Rantamsari sendiri yang mengatur pertemuan keduanya dengan memasukkan roh bidadari ke tubuh Sulasih.

Pada saat itu Raden Sulandono yang sedang melakukan pertapaan dipanggil oleh ibunya untuk menemui Sulasih, maka terjadilah pertemuan keduanya. Pada saat sekarang juga, apabila diadakan pertunjukan sintren sang penari pasti akan dimasuki roh bidadari oleh pawangnya.

Namun ada catatan pentingnya, yakni sang penari sintren harus masih dalam keadaan suci atau perawan. Selain itu, terdapat keunikan tersendiri dalam tarian ini terletak pada alat musik pengiring terbuat dari tembikar atau gembyung, kipas dari bambu yang jika ditabuh akan menghasilkan suara yang khas.

Ada juga cerita lain tentang asal-usul tarian ini, yakni ketik Raden Sulandono akan melakukan pertapaan, ibunya memberikan selembar kain kafan kepadanya. Kain ini sebagai media yang digunakan menjelang bertemu dengan Sulatih ketika pertapaannya selesai.

Sedangkan Sulatih yang menjadi penari kemudian diperintahkan untuk menari di dalam acara bersih desa sebagai syarat bertemu Raden Sulandono.

Pada saat pertunjukan rakyat diselenggarakan untuk memeriahkan bersih desa, ketika itu juga Sulasih menari menjadi bagian pertunjukan. Disamping itu, bulan purnama juga menyelimuti pagelaran malam itu, Raden Sulandono akhirnya turun dari pertapannya dengan cara bersembunyi dengan membawa kain pemberian ibunya.

Sulasih yang sedang menari kemudian dirasuki oleh roh Dewi Rantamsari sehingga mengakibatkan trance. Raden Sulandono yang melihat keadaan tersebut akhirnya melemparkan kain sehingga Sulatih jauh pingsan.

Dengan kekuatan yang dimiliki Raden Sulandono kemudian Sulasih dibawa pergi dan mewujudkan cita-citanya untuk hidup bersama.

Fungsi Dan Makna Tari Sintren

Gambar penari sintren akan tampil

Tari sintren adalah salah satu kesenian tari yang berasal dari pesisir barat Pulau Jawa yang memiliki unsur magis dan mistis.

Tidak jauh berbeda dengan jenis tari seblang yang berasal dari Banyuwangi, kesenian ini juga memakai penari wanita bernama ronggeng yang berfungsi menjadi media penyampaian pesan dari roh leluhur.

Makna filosofis yang terkandung di dalam tarian sintren juga cukup mendalam berkaitan tentang nilai-nilai kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika sesi balangan berupa penari ronggeng dilempari menggunakan uang, maka sang penari akan jatuh dan tidak bisa bangun lagi.

Adegan ini menjadi gambaran bahwa manusia sebaiknya tidak terlalu fokus dan serakah mengejar dunia saja. Sebab ada kalanya material duniawi yang diwujudkan dalam bentuk uang akan menjatuhkannya.

Filosofi lain yang terdapat di dalam tarian ini adalah pemakaian ranggap atau kurung ayam sebagai manifestasi dari pola kehidupan manusia. Dari bagian bawah akan melengkung keatas hingga mencapai puncak, kamudian akan kembali ke bawah berupa tahapan meninggal.

Dari semua makna filosofis diatas, maktari sintren adalah salah satu tari yang berfungsi untuk kepentingan tuntunan kehidupan sehari-hari, antara lain:

  1. Sebagai sarana penghubung dalam ritual bersih desa.
  2. Menjadi tarian penolak bala.
  3. Upacara adat bertujuan untuk meminta hujan.
  4. Tradisi pemberian nama seorang bayu yang baru saja lahir.
  5. Tradisi adat ruwatan.
  6. Sebagai hiburan umum yang ditampilkan dalam berbagai acara, seperti khitanan, pernikahan, bahkan perayaan HUT RI.

Peraturan Penari Sintren

Gambar penari sintren sedang dibacakan mantra

Penari dalam penampilan tari sintren terdiri dari seorang sintren atau ronggeng yang akan ditemani oleh empat orang cantrik atau penari pengiring. Seorang sintren sendiri tidak bisa diperankan oleh sembarang orang, sebab ada ketentuan khusus untuk menjadi penari sintren.

Salah satu ketentuan utamanya berupa sang penari harus masih perawan yang dalam keadaan suci. Sebab roh tidak akan dapat memasuki tubuh penari apabila syarat ini tidak terpenuhi.

Penari juga akan melakukan serangkaian ritual puasa selamat tiga hari sebelum pertunjukan diadakan.

Tujuan dari syarat ini adalah supaya penari dalam keadaan suci, tidak hanya pada bagian tubuhnya saja, namun batinnya juga. Sebab salah satu kegunaan puasa adalah menjaga seseorang dari perbuatan dosa dan zina.

Ketika sang penari dalam keadaan suci lahir batin, maka roh leluhur akan lebih mudah untuk memasuki tubuhnya. Selain itu, pertunjukan ini juga terdapat seorang pawang sintren yang bertugas untuk memanggil roh leluhur.

Baca Juga Tari Pendet Bali

Pertunjukan Tari Sintren

Gambar penampilan penari sintren

Tari sintren dibawakan oleh seseorang gadis yang masih perawan atau suci, serta ada juga empat penari pengiring. Sedangkan ketika pertunjukannya diselenggarakan, maka terdapat rangkaian acara seperti berikut:

1. Dupan

Dupan adalah prosesi doa yang dilakukan sebagai pembukaan acara, supaya diberi kelancaran ketika pertunjukan berlangsung.

Sang dalang sintren akan berdoa sambil memegang kepala calon penari memakai tangan kanan, sedangkan tangan kirinya memegang pundak penari. Calon penari yang posisi duduk memegang nampan berisikan perlengkapan kostum dan riasan yang nantinya akan dipakai menari.

Apabila sudah selesai berdoa, maka calon penari akan menundukkan kepala dan sudah tidak sadarkan diri.

2. Paripurna

Paripurna merupakan tanda dumulainya ritual inti dari pertunjukan kesenian sintren yang akan dipimpin oleh dalang sintren. Calon penari yang sebelumnya sudah tidak sadarkan diri dan masih menggunakan kostum keseharian akan diikat tangannya dan dimasukkan ke dalam ranggap atau kurungan ayam.

Busana dan perlengkapan rias diatas pangkuan sintren juga ikut dimasukkan ke dalam ranggap. Selanjutnya sang dalang akan mengitari ranggap atau kandang ayam sembari membawa kemenyan dan membacakan berbagai mantra.

Pada saat kemenyan telah diletakkan oleh sang dalang di depan ranggap sinden dan musik pengiring mulai dimainkan. Apabila ranggap sudah bergetar, maka menandakan penari sudah dalam keadaan kerasukan.

Ketika ranggap dibuka, maka penari sudah berganti pakaian dan riasan sintren yang menandakan telah siap menari.

3. Balangan

Arti dari balangan sendiri adalah waktu penari dilempari dengan menggunakan duit atau uang. Apabila penari terkenal lemparan ini, maka tubuhnya akan langsung terjatuh ke tanah dalam keadaan pingsan sebab roh leluhur sudah keluar dari tubuhnya.

Ketika waktu inilah sang pawang akan mendatangi penari dan mengusap wajahnya sambil membacakan mantra. Roh leluhur kemudian akan kembali masuk ke tubuh penari dan tarian dapat dilanjutkan lagi.

Sementara untuk penonton yang berhasil mbalang penari dengan uang tersebut dipersilahkan untuk menari bersama sintren.

4. Tempohan

Tempohan disini menjadi tanda berakhirnya tarian sintren dengan membawa nyiru atau nampan berkeliling ke penonton untuk mengambil saweran.

Apabila semua prosesi sudah selesai, maka penari akan kembali dimasukkan ke dalam kurungan bersama baju keseharian yang dipakai sebelumnya. Jika ranggap sudah mulai bergetar lagi, maka pertanda penari sudah kembali normal seperti semula.

Ragam Gerak Tarian Sintren

Gambar penari sintren sedang melakukan gerakan

Ragam gerakan yang ada di dalam tarian ini diciptakan dengan koreografi khusus, sebab ditarikan atas pengaruh dari roh yang merasuki.Gerakan ini biasa dinamai berdasarkan tingkatan sering munculnya gerakannya itu sendiri.

Oleh sebab itu, gerakannya cenderung mononton dan dilakukan berulang-ulang. Namun berbagai gerakan yang dilakukan sangat terlihat luwes, lincah, energik dan rampak dengan mengikuti musik iringan.

Tahapan gerak tari sintren adalah sebagai berikut:

  • Awal Pertunjukan

Pada saat pertunjukan tari sintren dimulai, maka kan dikenal dengan sebutan turun sintren memiliki berbagai ragam gerak yang mendominasi kemunculannya. Ragam gerak dalam awal pertunjukan ini berupa:

  1. Sembahan.
  2. Lembehan.
  3. Salaman.
  4. Geol bokong.
  5. Kosoki.
  6. Belulukan.
  7. Ngoyok.
  8. Lengkung.
  • Inti Pertunjukan

Untuk bagian inti pertunjukan tarian sintren, termasuk sesi balangan dan temohan. Gerakan tersebut berada di inti pertunjukan yang terdiri dari:

  1. Cincing colak.
  2. Lembehan bareng.
  3. Murub mubyar.
  4. Gebyar.
  • Akhir Pertunjukan

Pada bagian akhir pertunjukan sintren akan ditandai dengan sesi mengedarkan nyiru (tempat saweran) kepada penonton. Semua gerakan yang ada di dalam prosesi ini secara berulang-ulang berupa gerakan nyatu dan tangis layu.

Baca Juga Tari Cendrawasih Bali

Kostum Dan Properti Tari Sintren

Gambar kostum yang digunakan penari

1. Baju Keseharian

Kostum atau pakaian sehari-hari ini digunakan oleh penari sintren ketika belum masuk ke ranggap atau kurungan ayam.

2. Baju Mekak

Kostum merak ini bentuknya seperti kemben yang menutupi bagian badan penari. Pakaian ini dibuat dari bahan kain beludru hitam yang ditambahkan hiasan mante bermotif sulur tanam.

Penggunaan warna hitam pada mekak ini memiliki makna kebijaksanaan dan penanda kematangan jiwa penari sintren. Pertunjukan tari ini masih juga yang tetap mempertahankan menggunakan baju kebaya sebagai atasan penari utama.

3. Kain Jarit

Kain jarit didalam tarian sintren digunakan sebagai baju bawahan penari yang berwarna dasar putih dengan motif garuda berwarna hitam serta dikelilingi corak warna keemasan. Penggunaan jarit ini berada di bagian pinggang dengan panjang yang beragam.

Untuk bagian depan tepi tengah jarit akan diberikan aksen wiru supaya menambah kesan anggun dan indah.

4. Celana Cinde

Celan ini dibuat dari bahan beludru yang panjangnya hanya mencapai lutut ataupun tiga perempat kaki penari. Kostum ini digunakan dan akan dilapisi dengan luaran jarit.

5. Koncer Dan Jamang

Properti ini adalah komponen untuk penghias penari berupa roncean bunga melati. Biasanya properti ini digunakan pada bagian sisi telinga kiri, sedangkan jamang berada di sisi kanan telinga penari.

6. Sabuk

Properti sabuk ini akan digunakan oleh penari sintren diluar baju mekak yang berfungsi untuk menguatkan posisi agar tidak terjatuh ketika digunakan menari.

7. Sampur

Selendang atau kain sampur adalah properti yang dipakai oleh penari sintren sebagai pendukung berbagai gerakan yang sedang ditarikan. Biasanya sampur ini akan dililitkan pada bagian pinggang penari lalu ditimpa oleh sabuk.

8. Kaos Kaki

Properti kaos kaki dalam tarian sintren hanya digunakan sebagai pelindung dan penghias saja. Pada umumnya kaos kaki yang dipakai berwarna hitam ataupun putih.

9. Kacamata Hitam

Kacamata hitam yang digunakan oleh penari sintren menjadi salah satu properti pelengkap serta menjadi ciri khas dan keunikan dari tarian ini. Fungsi kacamata ini adalah untuk menutupi mata penari yang terpejam selama dalam masa kesurupan.

10. Hiasan Kepala

Hiasan pada kepala sintren sendiri adalah untuk memperindah penampilan penarinya, dan yang digunakan berupa mahkota.

11. Nyiru

Nampan atau nyiru ini biasanya terbuat dari anyaman bambu yang berfungsi sebagai tempat uang saweran.

12. Ranggap

Ranggap adalah kurung ayam yang bahan dasar pembuatannya adalah dari bambu yang dianyam. Biasanya ranggap ini akan ditutupi dengan kain berwarna putih serta ujung atas yang melengkung ditutup warna kuning.

13. Uang Balangan

Uang yang dilemparkan kepada penari ini dilakukan secara sukarela dan cuma-cuma. Akan tetapi balangan ini menjadi salah satu sesi wajib di dalam tari sintren.

14. Kemenyan Dan Sesajen

Properti tari sintren yang wajib ada adalah sesaji dan kemenyan dibakar sebagai sarana pemanggil roh yang akan dimintai untuk masuk ke tubuh penari sintren.

Riasan Penari Sintren

Gambar riasan penari sintren

Para penari sintren akan menggunakan tata riasan kolektif. Dalam artian riasan yang digunakan bertujuan untuk mendukung penampilan serta mempertegas karakter sang ronggeng.

Lupstik yang dipakai juga berwarna merah terang guna memperjelas wajah penari. Namu uniknya, riasan ini tidak dilakukan oleh seorang make up artis, tapi dilakukan penari sendiri yang sedang kerasukan.

Musik Pengiring Tari Sintren

Gambar penari sintren dalam pertunjukan

Musik yang dipakai dalam tarian sintren Cirtebon ini cukup beragam yang dipadukan dengan galeman khas Cirebon. Berbagai tembang dan syair yang dibawakan oleh sinden juga mengiringi tarian ini.

Selama pertunjukan berlangsung, lagu yang wajib dimainkan oleh para pengiring tidak bisa sembarangan. Sebab iringan tembang akan ditentukan sendiri oleh roh yang sedang berada di tubuh penari.

Tembang yang diinginkan biasanya akan disampaikan kepada dalang sintren terlebih dulu. Kemudian barulah tembang yang diinginkan tersebut disampaikan kepada pemusik dan sinden.

Berikut ini adalah beberapa jenis alat musik yang dipakai di dalam pertunjukan tarian sintren, antara lain:

  • Buyung, alat musik yang mirip kendang dibuat dari bahan tanah liat dan penutup karet pada bagian atasnya.
  • Tutukan, alat ini berguna sebagai bas dan terbuat dari bahan bambu panjang.
  • Bumbung, alat ini dibuat dari bahan bambu yang beruas kecil-kecil.
  • Kecrek, alat ini berguna sebagai pengatur ritme iringan musik tari sintren.
  • Gamelan lengkap, biasanya berlaras peloh dan selendero yang biasanya digunakan untuk mengganti berbagai jenis alat musik sederhana diatas.

Pola Lantai Tari Sintren

Gambar penari sedang melakukan pola lantai

Pastinya banyak yang penasaran dengan pola lantai yang digunakan dalam tarian sintren, bukan begitu kan? Tari sintren sendiri menggunakan pola lantai yang cukup sederhana, berkaitan dengan gerakan penari yang dikendalikan oleh roh leluhur.

Para penari sintren lebih banyak membentuk pola lantai garis lurus dengan mengikuti alunan gending yang sedang dimainkan.

Baca Juga Tari Bambangan Cakil

Akhir Kata

Mungkin hanya itu saja sedikit penjelasan yang dapat saya berikan kepada Anda tentang tari sintren dari daerah Cirebon, Jawa Barat. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah lagi pengetahuan Anda dalam bidang budaya Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like