Tari Seblang Banyuwangi

Tari Seblang – merupakan kesenian tari yang digunakan untuk ritual Suku Osing yang berasal dari daerah Banyuwangi, Jawa Timur. Tarian ini cukup berbeda dengan jenis tari tradisional lain yang mempunyai gerakan pakem secara turun temurun.

Namun tari tradisional seblang justru bergerak secara abstrak, sebab sang penari ketika bergerak dalam keadaan kejiman (kerasukan). Oleh karena itu, tarian ini mengandung nilai terjalinnya keseimbangan dan keharmonisan dari kehidupan manusia dengan alam, begitupun sebaliknya.

Tarian ini menjadi salah satu media untuk mengurai ketegangan ataupun konflik sebab masyarakat sadar di luar kekuasaannnya ada kekuasaan lain jauh lebih hebat yang harus dihormati.

Jika kalian ada yang masih belum mengerti informasi seputar tari tradisional Jawa Timur ini, bisa disimak pada penjelasan di bawah.

Sejarah Tari Seblang

Awal mula adanya tarian seblang

Tari seblang sendiri adalah penafsiran dari upacara ritual tarian rutin tahunan yang berguna untuk mendatangkan roh leluhur desa dengan wadeg perempuan. Kata sebele ilang disini diartikan sebagai hiangnya kesialan diambil menjadi sebuah akronim dan digunakan dalam nama tarian seblang.

Lenyapnya kesialan ini merujuk pada awal mula dimulainya tradisi tari seblang sebagai upaya yang dilakukan untuk menolak bala dari masyarakat Suku Oshing, Banyuwangi.

Tarian ini pada awalnya dibawakan oleh seorang anak perempuan yang bernama Semi yang sedang menderita sakit. Dalam keadaan tersebut, ibunya kemudian bernadzar apabila diberikan kesembuhan, maka Semi akan menjadi seblang.

Ternyata Semi benar-benar sembuh dari sakitnya dan melakukan tarian seblang untuk pertama kalinya. Semi ini jugalah yang menjadi perintis awal mula tari gandrung Banyuwangi yang sangat terkenal saat ini.

Selain itu, tari seblang juga pernah menjadi kesenian tari di istana Blambangan sekitar abad ke-16 yang diprakarsai oleh Lukinto. Oleh karena itu nama tarian ini menjadi seblang lukinto.

Akan tetapi sebab adanya gejolak politik yang terjadi di Banyuwangi, maka mulai tahun 1943 hingga 1956 ritual ini berhenti.

Namun di suatu ketika sempat terjadi pagebluk yang mengakibatkan berbagai kesulitan hidup seperti gagal panen, matinya hewan terna hingga adanay serangan wabah penyakit. Sejak inilah kemudian tarian seblang mulai diadakan lagi, kurang lebih pada tahun 1957.

Ciri Khas Dan Fungsi Tarian

Karakteristik dan kegunaan tarian seblang

Karakteristik atau ciri khas utama dari tari seblang adalah terdapat syarat dan ketentuan tentang pemilihan penari. Penari yang membawakan tarian ini tidak bisa sembarangan, oleh karena itu pemilihannya dilakukan oleh sesepuh atau dukun dan calonnya hanya dari keturunan penari sebelumnya atau disebut mager beroyo.

Sedangkan untuk proses pergantian penarinya sendiri biasanya dilakukan dalam kurun waktu 3 tahun sekali.

Banyak cerita yang beredar di masyarakat setempat bahwa calon penari akan memperoleh wangsit dari para leluhur melalui media mimpi sebagai tanda terpilih sebagai penari selanjutnya.

Selain itu, syarat lain dalam pemilihan penari adalah pertimbangan usia penari. Untuk penari seblang biasanya adalah perempuan menopause atau usianya diatas 50 tahun untuk tari seblang dari desa Bakungan.

Sedangkan syarat usia penari seblang dari desa Olehsari haruslah dari kalangan gadis yang masih berusia 10 tahunan dengan ketentuan baru akil baligh.

Oleh karena itu, fungsi tari seblang adalah sebagai upacara adat bersih desa Olehsari ataupun Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.

Tari ini menjadi bentuk rasa syukur dan terimakasih masyarakat Desa Olehsari dan Bakungan terhadap berkah kesejahteraan. Selain itu, tari ini juga ditampilkan untuk ritual tolak balak supaya terhindar dari mara bahaya atau pagebluk.

Baca Juga Tari Serimpi

Penyajian Ritual Pertunjukan

Pertunjukan tarian seblang

Pertunjukan tarian seblang sendiri ada dua macam yang memiliki kegunaannya sendiri-sendiri. Penyajian tersebut terdiri dari seblang bakungan dan seblang olehsari, untuk penjelasannya sebagai berikut:

1. Seblang Bakungan

Tarian seblang bakungan yang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur ini adalah jenis tari yang ditampilkan ketika bulan haji atau satu minggu setelah hari raya Idul Adha. Tradisi tarian seblang di desa Bakungan biasanya akan diawali dengan cara ziarah sesepuh desa ke Buyut Witri dengan membawa air suci dan berbagai sesajen.

Air suci yang digunakan ini berasal dari sumber mata air di daerah pantai Watu Ulo, Jember. Kemudian sesepuh desa akan melakukan doa di depan makam Buyut Witri dan dilanjutkan berkeliling desa untuk memercikkan air suci di setiap sudut desa sebagai penangkal marabahaya.

Setelah itu akan dilanjutkan ubo rampe, yakni ritual dari sabrang, kinangan, properti boneka nini towok, tumpeng, ketan wingko dan bunga berjumlah 500 buah. Kemudian akan melakukan selametan ketika waktu surup (matahari terbenam) di keesokan harinya dengan mempersembahkan tumpengan lauk pecel pitik.

Setelah ritual selametan, para laki-laki akan melakukan ider bumi (keliling kampung) dengan membawa obor sebab dilakukan pemdaman di seluruh desa Bakungan, serta akan berhenti di setiap sudut desa sembari membaca doa.

Jika semua persiapan sudah selesai, maka tari seblang ini akan dimulai dengan seluruh komponen mulai dari tata rias, pengundang arwah, penjamu, pengiring dan pawang berkumpul.

Ada hal unik pada penampilannya, meskipun penari sudah tidak sadarkan diri sebab kejiman, namun lagu iringannya akan dipilih sendiri oleh penari yang mewakili roh leluhur. Apabila dimainkan sebuah lagu dan penarinya tidak mau berdiri, itu tandanya lagu tidak disetujui.

Tarian ini akan diakhiri dengan tanda gending brang-brang yang dimainkan oleh musik pengiring dengan temppo cepat sebagai tanda roh leluhur sedang membersihkan desa dari semua hal negatif. Penari seblang akan berputar-putar dengan cepat dan jatuh pingsan yang artinya roh leluhur telah keluar dari tubuh penari,

Akhirnya panitia akan meminta penonton untuk memberikan uang seikhlasnya dan pembagian sajen untuk diperbutkan.

2. Seblang Olehsari

Jenis tari seblang ini akan ditampilkan ketika bulan Syawal atau tepat di hari ketiga atau keempat sesudah hari raya idul Fitri. Susunan acara tarian yang diadakan di desa Olehsari dan Bakungan secara garis besar adalah sama.

Namun, ada sedikit perbedaan pada ketentuan penari dan waktu pelaksaan.

Tradisi tari seblang desa Olehsari hanya dapat dilakukan mulai pukul 13.00 hingga 16.00 setiap hari selama 7 hari berturut-turut. Sesudah susunan kegiatan mulai dari ziarah kubur, selametan dan juga proses ider bumi, maka prosesi utama tarian ini akan dimulai.

Tradisi ini pada mulanya dilakukan dengan tujuan supaya mengkoneksikan leluhur yang telah meninggal dengan masyarakat setempat. Penari seblang akan dikawal oleh dua pawang perempuan dan tiga pawang laki-laki menuju tempat pertunjukan kurang lebih ukurannya 7 x 7 meter.

Terdapat juga prosesi adol kembang dirmo kepada masyarakat yang sedang melihat bersamaan dengan dimainkannya gending kembang dirmo. Kemudian untuk penonton yang mendapatkan lembaran sampur ketika prosesi ngibing dari penari, maka wajib ikut menarikan tari seblang.

Pada hari terakhir pertunjukan tari seblang desa Olehsari, maka akan dilakukan kirab keliling desa yang diikuti penari beserta masyarakat sekitar dengan iringan musik gamelan lengkap.

Setelah beberapa rangkaian kegiatan dihari ketuju, maka pada hari kedelapan akan dilakukan penutupan dengan cara siraman penari seblang. Hal ini sebagai bentuk pembersihan dan penyucian, lalu dilanjutkan dengan kembali melakukan selamatan.

Gerakan Tari Seblang

Ragam gerak tarian seblang

Meskipun secara keseluruhan koreografi tarian ini cenderung abstrak, namun ada beberapa gerakan yang banyak dilakukan. Jenis gerakan yang sering dilakukan penari seblang terdiri dari sapon, egol, dhaplang dan celeng mogok.

Pemberian nama di setiap gerakan tersebut berasal dari wujud gerakan ataupun judul gending yang dibuat iringan ketika geraknny ditarikan. Untuk penjelasan dari masing-masing gerakannya adalah sebagai berikut:

1. Sapon

Gerakan sapon merupakan salah gerak utama yang paling menonjol dari pada lainnya, serta berdampingan dengan egol. Disebut lebih menonjol karena hampir di semua gending sekaran ada.

Nama sapon sendiri diambil sebab gerakan yang dilakukan layaknya orang sedang menyapu. Gerakan ini dilakukan dengan posisi berjalan, tangan kanan dan kiri memegang sampur serta posisi badan bergantian antara membungkuk dan tegak.

Pada saat kaki kiri melangkah, maka akan diikuti dengan gerakan tangan kiri yang membuang sampur begitupun sebaliknya. Gerak sapon sendiri memiliki makna menyapu kotoran atau membersihkan dari semua macam mara bahaya serta energi negatif yang menyerang suku Osing.

Bukan hanya itu saja, ada juga nilai yang terkandung dalam gerakan ini berupa ajakan kepada masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan.

2. egol

Gerakan egol sendiri bersisian dengan sapon dan menjadi sekaran utama dalam rangkaian gerak tarian seblang. Gerak ini dilakukan dengan cara menggoyangkan pinggul atau dalam Bahasa Jawa diartikan dengan egolan.

Selain itu, gerak sekaran egol juga diikuti lagi dengan gerakan menoleh ke kanan dan ke kiri yang umumnya disebut gerak deleg. Biasanya akan ada tambahan gerak lagi berupa mlampah atau berjalan dengan cara mengangkat tumit sembari bergoyang.

Sedangkan ragam gerakan tangan yang dilakukan bersama gerak egol adalah seblakan sampur, lembehan tanga, ukelan dan ayunan tangan.

3. Dhaplang

Gerakan dhaplang merupakan sekaran yang dilakukan dengan cara meluruskan kedua tangan ke arah samping sembari memegang sampur. Gerak sekaran dhaplang sendiri dilakukan dengan ragam mlampah dan juga deleg.

Umumnya saat melakukan gerakan dhaplang, irama musik pengiring tempo diperlambat lalu berangsur menjadi cepat dan akan diakhiri dengan histerisnya penari sembari ambruk (jatuh ke tanah).

Gerak dhaplang sendiri mempunyai makna bahwa kehidupan manusia akan selalu diikuti oleh dua sisi dan harus selalu seimbang. Misalnya, layaknya gerakan tangan ketika dhaplang yang simetris antara kanan dan kiri.

4. Celeng Mogok

Gerakan yang terakhir berupa sekaran celeng mogok ini namanya diambil dari judul salah satu gending yang sering kali muncul gerakan tersebut. Gerakan yang dilakukan adalah dengan mlampah (berjalan) mundur dengan posisi bada membungkuk dan mata memandang ke bawah.

Kemudian tangan kiri dalam posisi lembehan dan memegang sampur, sementara untuk tangan kanan memagang bagian dahi.

Musik pengiring biasanya akan bertempo pelan sebab disebutkan bahwa gerakan ini merupakan bentuk representasi binatang celeng yang sedang bermasal-masalan atau moogok.

Susunan Panggung Pertunjukan

Penataan panggung tarian seblang

Ketika tarian ini berkembang, yakni sekitar tahun 1930 hingga 1970 pertunjukannya hanya pada sebidang tanah dengan alas tikar. Tikar tersebut akan dikelilingi pembatas kalangan (bambu diletakkan di tanah membentuk segi empat).

Akan tetapi, sekitar tahun 1980-an tradisi seblang ini mulai dilakukan diatas panggung atau biasa disebut genjot di tempat lebih permanen.

Sedangkan untuk luas panggung genjot ini sekitar 10 x 20 meter dengan bidang yang dibuat sedikit diatas tanah. Bidang tersebut dibuat supaya penonton bisa melihat lebih leluasa ketika penari seblang menari.

Tata Rias Tarian

Riasan penari seblang

Tata riasan yang dipakai dalam tari seblang bertujuan untuk membuat para penari terlihat lebih menarik dan cantik. Banyak juga masyarakat setempat yang percaya bahwa ketika pertunjukan tarian bukan hanya manusia yang menyaksikan, namun ada juga tiyang alus atau makhluk gaib.

Apabila penari berpenampilan lebih menarik, maka makhluk halus yang datang akan semakin banyak.

Terdapat satu riasan yang tetap dipertahankan hingga saat ini, yakni penari dilulur memakai atal atau tepung yang berasal dari hancuran batu halus dengan warna kuning.

Baca Juga Tari Bedhaya Ketawang Jawa Tengah

Tata Busana Dan Properti Tarian

Tata busana tari seblang

1. Angkin

Properti ini berupa kain yang dipakai sebagai kemben atau dililit untuk menutupi bagian tubuh mulai dari dada hingga pinggang. Untuk bagian luaran kemben biasanya akan dipasang ikat pinggang untuk menguatkan posisi angkin sebagai antisipasi jatuh ketika digunakan menari.

2. Sewek

Sewek sendiri berupa kain yang digunakan sebagai bawahan semacam layaknya jarit. Pada umumnya sewek yang dipakai merupakan kain jarit gajah oling yang melambangkan sikap manusia yang sebaiknya terus menerus mengingat Tuhan dalam hidupnya.

3. Omprok

Properti omprok adalah hiasan kepala yang didesain layaknya mahkota. Ada perbedaan pada ompok yang dipakai oleh panari tari seblang desa Olehsari dan Bakungan.

Untuk omprok desa OIehsari berjumlah tujuh sebab dilakukan selama tujuh haru berturut-turut, maka dilakukan pergantian setiap hari.

Properti ini dibuat dari pelepah pisang yang dianyam memanjang berbentuk zig-zag dengan ukuran lebar kurang lebih 2 cm, serta digunakan untuk menutupi wajah penari.

Sementara untuk bagian atasnya akan diberikan tambahan bunga segar dari jenis bunga sepatu kamboja, dan lain-lain. Untuk bagian tenganya biasanya akan diberi sebuah kaca kecil.

Omprok desa Bakungan lebih cenderung mirip dengan omprok yang dipakai oleh penari gandrung. Akan tetapi bahan yang digunakan adalah dari suwiran pelepah pisang ataupun kain mori berwarna putih dengan hiasan beberapa bunga pada bagian atasnya.

4. Sampur

Properti atau tata busana ini berupa selendang kain yang panjang. Biasanya kain ini akan dilemparkan oleh penari kepada penonton ketika prosesi ngibing sebagai bentuk ajakan untuk menari bersama.

5. Nyiru

Nyiru disini adalah alat berupa tampah atau nampan yang bentuknya bulat terbuat dari anyaman bambu. Biasanya properti ini yang menjadi penanda bahwa telah masuk atau belum roh leluhur ke tubuh sang penari.

6. Kembang Dirmo

Kembang ini adalah aneka bunga warna-warni yang kurang lebih jumlahnya 500 buah. Bunga ini nantinya akan dijual oleh beberapa gadis kepada para penonton yang bisa dipecaya mampu memberikan keberuntungan dan kelancaran rezeki termasuk jodoh.

7. Boneka Nini Towok

Boneka ini adalah salah satu properti dalam susunan tempurung kepala dan kain yang dibuat menjadi sebuah boneka perempuan. Banyak yang meyakini bahwa boneka ini menjadi simbol kesuburan dan kejujuran oleh masyarakat setempat.

8. Hiasan Dari Tebu Dan Padi

Properti berupa hiasan tebu, janur kuning, daun kemuning dan padi ini akan diletakkan pada tiang-tiang tarup atau tenda. Hiasan ini mempunyai makna berupa ungkapan rasa syukur warga akan tanah yang subur dan hasil panen yang melimpah.

9. Kemenyan Dan Sesajen

Kemenyan biasanya akan dibakar sebagai bentuk pemberian wewangian. Sesajen ini akan dipersembahkan untuk para makhluk halus dan roh leluhur yang jenisnya macam-macam.

Biasanya berupa bunga, buah, pecel tumpeng pitik, bubur merah. serakat, sego gulung dan lain-lain.

Instrumen Musik Pengiring

Iringan musik tarian seblang

Musik pengiring di dalam setiap acara ritual tari seblang Bakungan dan Olehsari juga mempunyai sedikit perbedaan.

Untuk tari seblang desa Bakungan biasanya memiliki iringan hanya dari kempul, gong, kendang dan dua buah saron. Sementara untuk tari seblang daerah Olehsari instrumennya lebih dilengkapi dengan biola.

Struktur pemain musik pengiring dalam tarian seblang biasanya berjumlah sembilan orang yang terdiri dari lima yoga (pemain gamelan) dan empat sinden (penyanyi). Untuk pemain yoga sendiri juga mempunyai syarat khusus berupa masih garis keturunan yang sama dengan penari seblang.

Selain itu, alat musik kendang diposisikan menghadap timur laut, saron dihadapkan ke barat daya dan gong dihadapkan ke arah tenggara.

Sedangkan untuk gending atau lagu yang bisanya dibawakan dalam tarian ini berjumlah 30, antara lain:

  • Seblang Lokenta
  • Agung-agung.
  • Ayo Kondur.
  • Ayun-ayun.
  • Baguse.
  • Celeng Mogok.
  • Cengkir Gadhing.
  • Emping-emping.
  • Erang-erang.
  • Gelang Walut.
  • Kebyar-kebyar.
  • Kembang Abang.
  • Kembang Dirmo.
  • Gending Kembang Gadhung.
  • Kembang Menur.
  • Kembang Pepe.
  • Gending Kembang Waru.
  • Layar Kumendhung.
  • Lilir Gule.
  • Lilira Kantun.
  • Padha Nonton Pedha Sempal.
  • Padha Nonton Pupuse.
  • entung Punjari.
  • Ratu Sebrang.
  • Sekar Jenang.
  • Sembung Laras.
  • Sondra Dewi.
  • Tambak.
  • Upak Gadhung.
  • Sampu.

Pola Lantai Tari Seblang

Bentuk pola lantai tari seblang

Pola lantai yang dipakai dalam tari seblang Banyuwangi biasanya didominasi pola lingkaran.

Para penari seblang akan melakukan gerakan tari sembari berputar mengelilingi para yoga atau penambuhan gamelan. Biasanya putarannya dilakukan selama dua atau tiga kali dalam setiap gending.

Makna filosofi yang terdapat dalam pola lantai ini berup warga Bakungan dan Olehsari supaya tetap utuh dan tidak terputus. Artinya karepen atau menjaga kerukunan dan persatuan.

Baca Juga Tari Tanggai

Akhir Kata

Mungkin hanya itu saja penjelasan yang dapat saya berikan tentang tari seblang di banyuwangi, Jawa Timur digunakan sebagai tarian mistis untuk menolak balak oleh warga desa Bakungan dan Olehsari. Semoga dengan adanya artikel ini bisa membantu dan menambah pengetahuan Anda dalam bidang budaya.

Tinggalkan komentar