Tari Rejang Renteng Pulau Dewata

Tari sakral rejang renteng dari Bali
https://riverspace.org

Tari Rejang Renteng – adalah kesenian tari yang berfungsi sebagai bentuk tari wali atau tari sakral yang harus ditampilkan ketika piodaland alit, madya, dan ageng di Pura, lebih khususnya di Pura Dalem Ped di Nusa Penida.

Tarian rejang yang berasal dari daerah Bali ini biasanya akan ditampilkan oleh para wanita dengan ragam gerakan yang sederhana. Untuk pemilihan penarinya sendiri tidak boleh sembarang usia dan kalangan, akan tetapi hanya pemangku istri yang boleh membawakannya.

Pada saat penampilannya, jumlah penarinya wajib atau harus berjumlah ganjil, yakni mulai dari 3, 5, 7, 9 dan seterusnya. Peraturan jumlah penari ini sudah berlaku sejak pembuatan tarian rejang secara niskala.

Nah, apakah Anda sudah pernah mendengar atau melihat tarian rejang ini? Apa jangan-jangan belum pernah mendengarnya sama sekali?

Untuk Anda yang masih belum mengerti informasi seputar tarian rejang ini bisa menyimak penjelasan yang saya berikan dibawah ini.

Sejarah Tari Rejang Renteng

Awal mula adanya tarian rejang renteng

Tari rejang tercipta sebagai wujud rasa syukur, hormat, pujian dan persembahan atas turunnya Dewa-Dewi Hindu ke bumi. Kata rejang renteng sendiri berasal dari dua suku kata yakni renteng dan rente yang mempunyai makna renta atau tua, bisa juga diartikan sudah berkeluarga.

Kesenian tari rejang ini termasuk ke dalam salah satu warisan dari masa Pra-Hindu yang diperkirakan tercipta tahun 1930. Namun sayangnya, siapa pencipta dari tari ini belum diketahui hingga sekarang ini.

Tarian ini mulai dikenal oleh masyarakat luas hasil dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali yang berusaha menjaga dan mengembangkan tari renteng yang dikenal langka. Untuk daerah asal dari tarian rejang ini adalah Banjar Adat Saren, Desa Saren, Kecamatan Nusa Penida.

Dinas Kebudayaan Bali menggabungkan gerakan tari dari 3 jenis tarian yakni tari rejang dewa, tari pendet dan tari renteng. Maka dari hasil penggabungan 3 jenis tarian tersebut akhirnya menjadi tari rejang renteng.

Kesenian tari sakral ini sering ditampilkan ketika ada acara piodalan (wali) di Pura Dalem Ped dan diwajibkan ngayah (seorang yang bekerja dengan tulus ikhlas tanpa mengharapkan imbalan). Untuk dimulainya biasanya setelah pendeta menyelesaikan ngayabang upacara mecaru dan nagturan piodalan.

Fungsi Tarian Rejang Renteng

Kegunaan tarian rejang

Secara umum, tari rejang renteng mempunyai 2 fungsi utama, yakni Wali dan Bebali.

Pertama, fungsi wali yang dimaksud disini adalah tarian rejang renteng menjadi kesenian sakral yang ditampilkan untuk piodalan di Pura Dalem Ped. Lebih tepatnya ketika upacara keagamaan (Dewa Yadnya) yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan sang pencipta.

Sementara fungsi kedua berupa bebali, artinya tarian ini dipakai untuk upacara Manusa Yadnya (persembahan yang suci, tulus dan ikhlas sebagai pemeliharaan, pendidikan dan pensucian spiritual).

Maksudnya adalah seseorang tersebut memiliki kewajiban bahwa dengan menampilkan tarian rejang renteng bisa mendatangkan keselamatan, kesembuhan dan ketentraman berkat turunnya Dewa Dewi Hindu.

Selain itu, tarian ini juga dapat menghilangkan, mengusir dan mengendalikan energi negatif yang sering mengusik kehidupan di alam beserta isinya.

Makna Tari Rejang Renteng

Makna tarian rejang renteng

Di dalam sebuah buku yang bernama “Yuda Bakti” pada Lontar Usana Bali disebutkan bahwa tarian ini merupakan lambang Widyadari (bidadari). Bidadari tersebut turun ke bumi untuk memandu Ida Bhatara ketika upacara pensucian diri untuk menyambut hari raya Nyepi (Melansti).

Sama seperti yang telah sedikit saya jelaskan diatas bahwa tari rejang renteng berasal dari kata “renteng atau rente” yang artnya renta, tua atau sepuh.

Arti tua disini bukan dimaksudkan sebagai fisik tubuh yang menua. Akan tetapi lebih mengarah ke seseorang yang dituakan, sudah menikah atau seorang pemangku (orang yang telah disucikan).

Kesenian tari yang sakral ini biasanya ditampilkan ketika ada perayaan hari besar dalam upacara keagamaan Hindu (piodalan) di Pura Dalem Ped. Untuk lokasinya berada di halaman bagian dalam pura (jeronan) di depan pelinggih.

Tari ini akan dibawakan oleh penari wanita, baik dengan cara berkelompok, ataupun massal. Namun semua penari usianya harus yang tua, atau setengah baya hingga muda.

Untuk penari sendiri tidak ada paksaan atau sukarela, tulus, dan sadar dalam membawakannya sebagai wujud rasa hormat, pujian dan mengharap berkah kepada sang pencipta.

Tari rejang renteng ini di beberapa desa terdapat “pengarep” (pemandu tari) yang berada di posisi bagian depan. Sedangkan penari lainnya berada di posisi belakang seraya mengikuti gerakannya.

Tari rejang juga mengandung makna berupa membebaskan diri dari sifat buruk seperti egois, rasa iri, dengki dan lain-lain. Tujuannya adalah supaya bisa berbaur dengan lingkungan sekitar dan menjadi pribadi yang baik serta penuh kasih.

Selain itu, rejang sendiri mempunyai makna “terikat” (berhubungan satu dengan yang lainnya) sebagai bentuk keharmonisan. Oleh karena, pada akhirnya gerakan tari yang dilakukan para penari saling berpegang tangan sembari membentuk lingkaran.

Baca Juga Tari Serimpi

Gerak Dasar Tarian Rejang Renteng

Ragam gerak tari rejang renteng

Tari rejang ini dikenal sebagai jenis tarian sakral, tujuannya adalah berupa ritual keagamaan yang tidak bertitik fokus di gerakan dan kostum tariannya. Berbagai unsur mulai dari ruang positif dan negatif, level gerakan, pola lantai, gerakan dan dimensinya terlihat sederhana.

Ragam gerak dasar dalam tarian ini dilakukan secara berulang-ulang sebab setiap geraknya mempunyai makna yang mendalam. Semua penari juga memperagakan tarian ini yang ikhlas dan tulus.

Tari ini juga mempunyai ciri khas berupa Jempana sebagai Linggih Ida Bhatara yang dipandu oleh selendang panjang yang diikat di bagian pinggang penari.

Sedangkan gerak dasar dari tarian rejang renteng terbagi menjadi 3 bagian yang diperagakan dalam satu waktu, antara lain:

1. Memendet

Memendet adalah gerakan bagian pertama di dalam tarian rejang renteng, dimana pola gerakannya dilakukan berulang-ulang. Posisi penari juga akan mengarah ke utara, yakni pelinggih, atau tempat dewi turun ke bumi.

Dalam gerakan memendet ini dibagi lagi menjadi dua macam, yakni gerak nyalud dan ngelung.

Gerakan nyalud merupakan bentuk gerakan tangan menghadap ke bagian dalam dengan kedua lengan tertutup dan terbuka di bagian depan dada. Kemudian kaki kiri dan kanan secara bergantian bergerak mengarah ke depan.

Sedangkan gerak ngelung merupakan gerakan merebahkan badan ke arah kanan dan kiri dengan satu tangan lurus ke arah samping. Untuk tangan satunya akan ditekuk ke arah bagian dada penari.

Makna yang terkandung dalam gerakan memandet adalah sebagai sarana penghubung dan pendekatan diri pada sang pencipta (Sang Hyang Widhi Wasa). Semua gerakannya memiliki tujuan untuk menjaga keharmonisan dan keseimbangan alam.

Gerakan memandet sendiri juga bisa dikatakan sebagai bentuk penyambutan untuk para dewa-dewi agama Hindu yang turun dari kayangan. Semua penari biasanya akan berposisi baris vertikal sesuai dengan usia, sementara untuk penari tertua akan berada di paling depan.

Penari yang berada di posisi belakang akan mengikuti gerak tarian dari penari di depannya, agar terlihat kompak, disiplin, dan selaras.

2. Rejang

Gerak rejeng dalam tarian ini dilakukan pada bagian kedua setelah gerakan pertama sebagai simbol mensucikan diri dari kebebasan dari hal buruk. Bentuk gerak tarian rejeng ini berada dalam satu baris vertikal yang mengarah ke pelinggih, persis dengan memande.

Gerakan rejeng ini sendiri terdapat 3 macam, yakni ngeliud, ngenjet, dan tanjak. Untuk penjelasannya sebagai berikut:

  • Gerak ngeliud, adalah gerakan yang melukiskan kendali yang cenderung lembut, halus, dan dinamis dengan membentuk formasi garis lengkung.
  • Gerakan ngenjet, adalah gerakan penari yang sangat kokoh, damai, dan penuh ketenangan dengan membentuk pola gerak simetri.
  • Gerak tanjak, adalah gerakan penari yang membentuk skema gerak asimetris.

3. Memande

Gerak terakhir atau memande adalah gerakan tari rejang dengan pola lantai berbentuk lingkaran sebagai tanda akan dimulainya persembahyangan. Makna dari gerakan ini sebagai ucapan terimakasih, rasa bahagia dan rasa syukur sebab sudah menghibur para dewa-dewi yang datang ketika upacara tersebut.

Bukan hanya itu saja, pola gerakan melingkar (renteng) mempunyai makna keseimbangan dan keselarasan dalam pola gerak simetris dan asimetris.

Bentuk gerakan simetris ini menggambarkan keadaan tenang dan diam, sementara gerakan asimetris menggambarkan keadaan dinamis dan berubah-ubah.

Musik Pengiring Tari Rejang

Alat musik pengiring tarian rejang Bali

Berbagai bentuk gerakan dalam tari tradisional seperti rejang renteng ini akan diiringi oleh iringan musik yang sangat sederhana, bertempo dinamis, indah dan ritmis. Sedangkan dalam pagelaran, musiknya akan diiringi oleh gong kebyar, gong gede,, semara pagulingan dan semara dana.

Untuk bagian instrumen biasanya terdiri dari Ceng-ceng ricik, Gangsa Pemade, Gong Jublag, Kajar, Kantilan, Kendang, Kenong, Reong, dan Suling.

Tata Rias Penari Rejang

Riasan penari rejang renteng

Tata riasan wajah penari tari rejeng renteng biasanya mengangkat tema make up keseharian atau tidak terlalu berlebihan. Riasan yang sederhana menggambarkan persembahan dari tarian yang sakral ini menitikberatkan pada nilai kebersihan, kesucian, dan kesederhanaan yang menjadi bagian dari rasa ikhlas dan tulus.

Baca Juga Tari Lengger

Filosofi Kostum Dan Properti Tari Rejang

Nilai filosofi tarian rejang

Tari rejang renteng sendiri menjadi seimbol dari kesederhanaan, dimana kostum, tata rias, gerakan dan propertinya yang memiliki nilai filosofi yang cukup mendalam. Untuk penjelasan filosofi yang terkandung di dalamnya sebagai berikut:

  • Baju Putih Lengan Panjang

Kostum ini mempunyai makna bahwa tubuh manusia sangat sakral, maka harus dijaga dan dirawat dengan hal yang indah, bersih dan suci juga.

  • Selendang Kuning Polos

Properti ini mempunyai makna bahwa perut adalah pusat dari tumbuh kembangnya kebaikan, kejahatan dan emosi. Oleh karena itu harus diikat dalam bentuk simbol simpul selendang.

  • Kain Cepuk Tenun Warna Kuning

Kain ini mempunyai makna bahwa di dalam seni terdapat kekuatan penolak bala atau segala macam bahaya.

  • Sasakan Polos

Makna dari properti ini adalah pikiran yang bersih (suci), tulus dan berbakti kepada sang pencipta.

  • Sanggul Pusung Tagel

Sanggul ini mempunyai makna bahwa sang penari sudah bersuami atau menikah.

  • Bunga Jepun

Bunga ini dikenal dengan bau wanginya yang sangat harum dan menjadi simbol keindahan, keharuman, sederhana dan polos.

  • Subeng (Anting-anting)

Properti ini mempunyai makna seseorang sebaiknya mendengar ucapan yang baik, indah, dan suci supaya tidak terpengaruh oleh ucapan kotor yang nantinya akan berpengaruh dalam tarian.

Selain itu, kostum penari yang berwarna kuning dan putih mempunyai makna cukup mendalam.

Untuk warna putih disini sebagai lambang dari Dewa Iswara (kebenaran dan kesucian), sementara warna kuning sebagai lambang dari Dewa Mahadewa (kebahagiaan).

Pola Lantai Tari Rejang Renteng

Bentuk pola lantai tari rejang

Tari tradisional rejang renteng ini biasanya ditampilkan di halaman Pura (panggung non konvensional) sebagai bentuk penghormatan. Untuk jumlah penari biasanya ganjil antara 3, 5, 7, 9 dan seterusnya.

Sementara bentuk pola lantai yang digunakan dalam tarian ini ada duamacam, yakni ketika gerakan memendet, rejeng, dan memande.

Ketika masuk gerakan memendet dan rejang akan menggunakan bentuk pola lantai lurus berbaris (vertikal) yang terkesan sederhana namun tetap kokoh dan kuat. Sementara ketika gerakan memande akan menggunakan pola lantai membentuk bulat atau lingkaran.

Baca Juga Tari Tandak

Kesimpulan

Kesenian tari tradisional Bali yang sakral ini masih tetap di jaga dan dilestarikan hingga sekarang ini. Biasanya kelompok ibu-ibu di beberapa desa di Pulau Bali akan ikut serta mempelajari tari rejang renteng ini sebagai bentuk melestarikan budaya daerah.

Nah, mungkin hanya itu saja penjelasan yang bisa saya berikan tentang tari rejang renteng dari Bali ini. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah pengetahuan budaya Anda, serta membantu menyelesaikan tugas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like