Tari Rangguk Ayak Jambi

Tari Rangguk Ayak – adalah salah satu kesenian tari tradisional yang berasal dari Jambi, Sumatera. Lebih tepatnya adalah tarian yang berasal dari daerah suku Kerinci, yakni suku asal dari daerah kabupaten Kerinci yang konon menjadi keturunan bangsa Melayu Kuno (Proto Melayu).

Pada dasarnya, nama rangguk ayak sendiri diambil dari gerakan utamanya berupa mengangguk-angguk. Banyak yang percaya bahwa awal mula adanya tarian ini berkaitan dengan suatu agam yang dianut oleh masyarakat Jambi.

Namun apakah sebelumnya sudah ada yang mengerti informasi seputar tari tradisional ini? Jika Anda berasal dari Pulau Sumatera, tentunya sudah tidak asing lagi dengan tari ini.

Lantas apa saja sih informasi yang akan saya berikan tentang kesenian tradisional rangguk ayak? Penasaran? Yuk langsung saja simak penjelasan dibawah ini sebai tambahan pengetahuan Anda.

Sejarah Tari Rangguk Ayak

Gambar sejarah tarian rangguk

Berdasarkan catatan sejarahnya, asal mula lahirnya tarian ini banyak dikaitkan dengan seorang ulama besar yang berasal dari daerah Kerinci, terletak di dusun Cupak. Selama beberapa waktu, ulama tersebut pergi ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmu agama di Makkah sekitar abad ke 19-an.

Selain dalam rangka memperdalam ilmu agama, beliau juga ikut tertarik mempelajari kesenian Arab yang sering dimainkan oleh pemuda-pemudi. Biasanya para pemuda-pemudi Arab akan melakukan berbagai kesenian menggunakan rebana, sehingga membuat ulama tersebut ikut mempelajarinya.

Setelah beliau merasa ilmu yang didapatkan sudah cukup serta ibadah hajinya sudah selesai, maka beliu kembali pulang ke kampung halamannya. Ulama tersebut kemudian menyebarkan ilmu agama yang telah dipelajari ketika berada di tanah suci Mekkah kepada masyarakat suku Kerinci.

Hal ini dilakukan sebab kebanyakan masyarakat suku Kerinci pada saat itu gemar sekali melakukan kemaksiatan seperti sambung ayam, berjudi dan mabuk-mabukan.

Akan tetapi niat untuk berdakwahnya tidak mendapatkan sambutan yang baik dari masyarakat, mereka malah justru semakin tenggelam dalam jurang kemaksiatan dan dosa.

Ulama tadi tidak kehabisan akal, beliau lalu mencari cara lain untuk menyebarkan agama Islam dengan cara lain supaya dakwahnya bisa diterima. Oleh karena itu, beliau mendapatkan cara dengan menggabungkan kesenian rebana yang sudah ia pelajari ketika di Makkah dengan kesenian daerah berupa silat Melayu.

Beliau menyelipkan pujian-pujian kepada Allah SWT di dalam tarian sembari mengangguk-anggukan kepada ketika bermain rebana seraya menunggu pemuda berkumpul untuk belajar silat.

Cara yang dilakukan ini ternyata membuahkan hasil, banyak sekali pemuda yang kemudian tertarik untuk mengikuti ajaran tersebut. Alhasil semakin lama ajarannya diterima dan banyak diikuti oleh masyarakat Jambi, bahkan pada saat beliau sudah  wafat. Kesenian tari ini tetap melekat di hati masyarakat dan menjadi bagian dari adat budaya masyarakat Jambi.

Namun seiring dengan berkembangnya zaman, kesenian rebana dan silat Melayu kemudian dipisahkan menjadi dua bentuk seni yang berbeda. Untuk silat Melayu diajarkan secara sendiri, sementara kesenian rebana lalu diberikan nama tari rangguk ayak sebab mereka memainkan rebana sembari mengangguk-anggukan kepala.

Makna dan Fungsi Tari Rangguk Ayak

Gambar makna yang ingin disampaikan penari

Tari tradisional rangguk ayak yang secara bahasa berasal dari kata “rangguk” merupakan dialek masyarakat Kerinci Hulu. Masyarakat juga sering menyebutnya dengan kata “rangguek”, sementara masyarakat sungai Penuh menyebutnya dengan “ranggok”.

Semua perbedaan dalam penyebutan dialek tersebut kemudian memunculkan beberapa pendapat tang makna dari kata rangguk itu sendiri.

Pertama, ada pendapat yang mengatakan bahwa kata rangguk mempunyai arti tari sebab dalam bahasa Kerinci Hulu, masyarakat menyebut menari dengan kata “merangguk”. Jadi masyarakat Kerinci Hulu menyebut tari dua belas dengan “rangguk dua belas”, tari ayak disebut “rangguk ayak’, dan tari rabbieih disebut “rangguk rabbieh”.

Kedua, terdapat pendapat yang mengatakan bahwa kata rangguk berasal dari gabungan dari kata uhang dan ranggok. Berdasarkan dari kebiasaan masyarakat Sungai Penuh Kerinci yang gemar menyingkat dua kata menjadi satu kata sehingga kata uhang yang berarti orang dan nanggok.

Makna mengangguk disini jika digabungkan menjadi rangguk yang memiliki arti orang yang mengangguk.

Hal ini banyak dikaitkan dengan asal-usul tari rangguk ayak yang merupakan sebuah usaha dari seorang ulama untuk mengumpulkan para pemuda-pemudi dengan cara memainkan rebana sembari memuji kebesaran Allah SWT dan mengangguk-anggukan kepala.

Pada saat awal mula keberadaannya, tari ini banyak dilakukan dengan cara duduk melingkar dan berguna sebagai media dakwah sang ulama untuk mengajak masyarakat memuja dan mengingat Tuhan.

Akan tetapi seiring perkembangan zaman, tarian ini kemudian dilakukan secara berdiri dan difungsikan sebagai bentuk tari hiburan serta untuk menyambut tamu.

Untuk masyarakat Kerinci, tarian ini bukan hanya sekedar hiburan atau pertunjukan untuk menyambut tamu. Namun biasanya ditarikan juga ketika upacara-upacara adat Kerinci seperti pengangkatan kepala suku, acara Keduri Sko atau acara adat yang digelar untuk pengangkatan Datuk, Mangku, Rio Depati.

Selain dari nilai estetika, tarian khas suku Kerinci ini juga mengandung nilai budaya dan filosofi yang dalam, yakni sebagai ungkapan rasa syukur kepada sang pencipta. Serta mengandung juga wujud ketaqwaan kepada Allah SWT sebab isi dari pantun yang dibacakan dalam tarian ini adalah pujian untuk Allah SWT dan Rasulnya.

Pelajari Juga! Tari Saman Aceh

Penari Rangguk Ayak

Gambar formasi penari rangguk

Pada awalnya, tarian rangguk ayak hanya akan dibawakan oleh 5 hingga 10 orang penari laki-laki saja. Hal ini dikarenakan pada awalnya untuk menunggu kesenian silat dimulai, biasanya akan dibawakan juga oleh kaum laki-laki yang berkumpul diteras rumah untuk melepas lelah akibat bekerja di sawah.

Sementara kaum wanita dianggap tabu dan tidak diperkenankan untuk ikut menarikan tarian rangguk ayak ini.

Akan tetapi, pada masa pertengahan abad ke-20, kaum wanita diperbolehkan mulai belajar tarian ini, namun hanya untuk anak-anak saja. Namun semakin lama, lebih tepatnya sekitar tahun 1950-an mulai ada penari perempuan yang membawakan tari rangguk ayak dan mulai menggeser kaum laki-laki.

Berawal dari proses tersebut, maka tari rangguk ayak boleh dibawakan oleh siapa saja tanpa memandang jenis kelamin dan usia. Siapa saja baik orang dewasa, remaja, anak-anak., laki-laki dan perempuan diperbolehkan menarikan rangguk ayak.

Namun tarian ini mulai dikenal di berbagai daerah secara luas, tidak hanya di dusun Cupak saja, tapi sudah menjadi tarian khas masyarakat Kerinci secara keseluruhan.

Musik Pengiring Tarian Rangguk Ayak

Gambar iringan musik dalam tarian rangguk ayak

Musik pengiring di dalam pertunjukan tarian ini berasal dari alat musik rebana dengan berbagai ukuran yang ditabuh oleh penari. Biasanya untuk jumlah rebana yang dipakai menyesuaikan penari yang ikut andil membawakan pertunjukan.

Akan tetapi, biasanya penari yang ikut andil dalam tarian ini berkisar 5 hingga 10 orang yang masing-masing membawa satu rebana.

Kostum Penari Rangguk Ayak

Gambar kostum yang digunakan oleh penari rangguk

Kostum yang digunakan oleh para penari perempuan rangguk ayak berupa baju adat khas Kerinci , yakni baju kurung dengan motif keemasan. Sedangkan untuk bagian bawah biasanya penari akan menggunakan kuluk yang dihiasi benang emas dan tidak ketinggalan kerudung khas perempuan muslimah.

Sementara untuk penari laki-laki akan menggunakan kostum atas berupa baju lengan panjang dan bagian bawahannya celana panjang.

Akan tetapi dalam masa perkembangannya, kostum yang digunakan oleh para penari rangguk ayak semakin berubah-ubah mengikuti zaman dan menyesuaikan dengan kondisi pertunjukan.

Pelajari Juga! Tari Seudati Aceh

Properti Tari Rangguk Ayak

Gambar rebana sebagai properti tarian rangguk Jambi

Dalam unsur properti yang dipakai oleh para penari ketika pertunjukan berlangsung adalah rebana dengan berbagai ukuran. Rebana-rebana tersebut dibuat dari bahan kulit hewan yang telah disamak, kemudian dipasang pada kayu yang sudah dibentuk setengah lingkaran dan diberi ukuran sedemikian rupa.

Pola Lantai Tari Rangguk Ayak

Gambar bentuk pola lantai

Pada awal mula kemunculannya, tarian rangguk ayak menggunakan pola lantai melingkar sebab sang penari hanya duduk melingkar sembari memainkan rebana dan menggerakakan kepala serta membacakan pujian-pujian.

Setelah mengalami perubahan fungsi menjadi tari penyambutan, maka pola lantai tari ini mulai berubah menjadi baris sejajar. Selain itu akan ditarikan dengan cara mengangguk-anggukan kepala kepada setiap tamu yang datang seraya menyanyikan pantun dan pujian serta selamat datang.

Dalam hal ini, penari tidak hanya mengangguk-anggukan kepala saja, namun melakukan pergerakan badan juga. Biasanya ragam gerakan tari rangguk ayak ini menyerupai gerakan lenggokan manusia, riangnya hewan dan liukan tumbuhan.

Perkembangan Tari Rangguk Ayak

Gambar perkembangan tarian rangguk Jambi dalam sebuah pertunjukan

Sejak pertama kali muncul dan dikenalkan oleh Ulama dari dusun Cupak, hingga sekarang tarian ranggyuk ayak sudah mengalami banyak perkembangan. Berbagai macam perkembangan tersebut seperti perubahan fungsi dari sarana media dakwah dan hiburan menjadi tarian penyambutan tamu.

Perkembangannya juga mencakup unsur pola lantai seperti yang saya jelaskan diatas, dan juga filosofi dan makna yang termuat di dalamnya.

Pada saat sekarang ini, tarian rangguk ayak sudah menjadi bagian dari adat budaya masyarakat Kerinci dan juga menjadi salah satu kesenian tari tradisional Indonesia yang wajib untuk dilestarikan.

Pelajari Juga! Tari Kancet Papatai Kalimantan

Akhir Kata

Mungkin hanya itu saja penjelasan yang dapat saya berikan tentang apa itu tari rangguk ayak yang berasal dari daerah Jambi untuk Anda. Semoga dengan adanya artikel ini dapat membantu dan menambah pengetahuan Anda dalam bidang budaya Indonesia.

Tinggalkan komentar