Daur Hidup Cacing Pita

Riverspace.org – Cacing pita adalah salah satu jenis hewan yang memiliki tubuh sangat panjang serta biasa disebut sebagai cestoda. Siklus daur hidup cacing pita saat keluar dari telur dan masuk ke tubuh manusia tentunya akan sangat bahaya sekali.

Cacing pita sendiri bersifat hermafrodit serta memiliki daur hidup yang lebih sederhana. Hewan ini tidak mengalami fase aseksual di dalam proses daur hidupnya.

Meskipun begitu, siklus daur hidup cacing pita masih tergolong kompleks sebab melibatkan sedikitnya satu inang perantara dan satu inang primer.

Untuk lebih jelasnya dalam mengenali tahapan daur hidup dari cacing pita, langsung saja kepoin penjelasan saya dibawah ini.

Siklus Daur Hidup Cacing Pita

Gambar daur hidup cacing pita

Jika diamati secara sekilas, daur hidup cacing pita memiliki kesamaan dengan Termatoda, namun lebih sederhana. Hal ini dikarenakan tidak adanya fase reproduksi aseksual pada daur hidup cestoda.

Berikut ini adalah urutan lengkap dari fase daur hidup cacing pita, antara lain:

1. Telur

Cestoda akan bereproduksi secara seksual yang akan menghasilkan (menyimpan) telur pada prologidnya. Nah, untuk segmen prologid yang matang kemudian akan rontok bersmaan dengan telur-telur yang dikandungnya.

Telur tersebut akan keluar melalui kotoran inang primer dan dimakan lagi oleh inang perantara (sapi, babi, dan lain-lain).

2. Onkosfer

ketika di dalam tubuh inang perantara, telur tersebut akan menetas menjadi onkosfer. Yakni larva heksakant yang masih terbungkus oleh lapisan embrionik.

3. Larva Heksakant

Onkosfer yang sudah berubah menjadi larva heksakant akan bisa menembus dinding saluran pencernaan dan terbawa menuju otot.

4. Sista Sistiserkus

Fase daur hidup cacing pita ketika sudah melalui larva heksakant yang berada di otot lalu akan membungkus diri menjadi sistiserkus. Sistiserkus sendiri akan dapat bertahan beberapa tahun pada hewan (inang perantara), lalu akan terbawa ke inang primer (inang definitif) jika termakan bersama dengan daging hewan.

5. Cacing Pita Muda

Sisteserkus yang ada di usus tubuh inang primer kemudian akan menempel dan mulai tumbuh menjadi dewasa.

6. Cacing Pita Dewasa

Caing pita muda akan tumbuh menjadi cacing pita dewasa yang menempel pada usu dengan skoleks serta mulai melakukan reproduksi seksual. Proglotid cacing pita mulai akan terisi dengan telur yang berjumlah puluhan sampai ratusan ribu per segmen produksi.

Ada hal menarik dari cacing pita ini, sebab ia bisa mempunyai 1.000 hingga 2.000 segmen.

7. Proglotod Rontok

Apabila sudah matang dan berisi telur, maka segmen-segmen proglotid yang penuh dengan telur akan mulai berguguran dan terbawa melalui kotoran hewan inangnya.

Pelajari Juga Yuk! Daur Hidup Nyamuk

Jenis Cacing Pita

Contoh gambar daur hidup taenia sp

Pada dasarnya cacing pita mempunyai banyak sekali jenis spesies, namun disini saya akan menjelaskan 3 jenis cacing pita yang dikenal sebagai parasit. Ketiga jenis cacing pita tersebut adalah taenia saginata, taenia solium dan taenia asiatica.

Berikut ini penjelasan lebih lengkap tentang ketiga jenis cacing pita tersebut:

1. Taenia Saginata

Jenis cacing pita ini sering disebut atau dikenal sebagai cacing pita sapi. Hewan tergolong parasit ini hidup di dalam tubuh dan menganggu fungsi usus halus pada manusia. Di dalam tubuh manusia, cacing ini bisa bisa menyebabkan penyakit taenasis, sementara pada hewan ternak menyebabkan sistiserkosis.

Taenia saginata juga termasuk jenis cacing terbesar di dalam genus taenia. Biasanya panjang ukuran tubuhnya bisa mencapai 4 hingga 10 meter, walauapun begitu cacing ini bisa tumbuh hingga 22 meter.

Bagian tubuh cacing pita jenis ini terdiri dari kepala (scolex), leher, dan srobila. Untuk bagian kepala taenia saginata ini mempunyai 4 penghisap namun tidak memiliki kait.

Hal inilah yang membedakannya dengan cacing pita lainnya, serta pada bagian strobila terdiri dari serangkaian segmen yang disebut proglottif. Jenis cacing pita ini termasuk hemaphordit, sehingga bisa membuahi sel telurnya sendiri.

Satu individu jenis cacing ini, bisa mengeluarkan telur sebanyak lebih dari 100 juta buah. Sedangkan inang dari cacing ini adalah manusia, sapi, dan kambing.

2. Taenia Solium

Jenis cacing taenia soluim ini biasa disebut sebagian orang dengan cacing pita babi. Sering disebut demikian sebab cacing ini umumnya menginfeksi pada babi.

Tidak jauh berbeda dengan taenia saginata, tubuh cacing ini terdirid ari kepala, leher, dan strobila. Namun ada perbedaan yang terletak pada kepala yang mempunyai penghisap dan terdapat sepasang kait dari bahan katin. Untuk segi warna cacing pita babi ini adalah putih dengan ukuran panjang 2 hingga 3 meter.

Bukan hanya itu saja sih, bahkan panjang cacing pita babi ini bisa mencapai 8 meter. Strobilanya tersusun dari segmen sebanyak 700 hingga 1000 buah, yang di dalam setiap segemnnya ada sekitar 50.000 telur cacing.

Tidak jauh dari namanya, inang kedua setelah manusia untuk cacing ini adalah babi., sebab babi termasuk hewan omnivora yang sangat rakus.Oleh karena itu, wajar saja apabila babi menjadi salah satu hewan yang paling mudah diinfeksi oleh cacing pita.

Ketika terinfeksi, maka larva di dalam tubuh manusia bisa ditemukan dalam 3 bentuk yang berbeda.

3. Taenia Asiatica

Jenis taenia asiatica adalah salah satu dari ketiga jenis cacing pita yang umumnya bersifat parasit di dalam tubuh manusia. Jenis ini baru ditemukan sekitar awal tahun 1980, yang memiliki banyak sekali kesamaan dengan cacing pita sapi.

Namun setelah dilakukan penelitian lebih lanjut, ditemukan beberapa perbedaan dari kedua jenis cacing pita ini.

Penyebaran cacing ini banyak terjadi di kawasan Asia Timur, khususnya di negara cacing ini pertama kali ditemukan. Pada mulanya keberadaan cacing ini sebab konsumsi daging, namun ditemukan bahwa sapi jarang dikonsumsi di daerah tersebut.

Oleh sebab itu, diputuskan bahwa jenis ini bukanlah cacing pita sapi. Warna tubuh dari cacing ini juga putih kekuningan dengan panjang sekitar 3,5 meter. Bagian kepalanya dilengkapi dengan 4 penghisap.

Sedangkan strobila dan kepalanya dihubungkan dengan leher pendek, serta tumbuhnya hampir sebesar 1 cm.

Pelajari Juga Yuk! Daur Hidup Aurelia Aurita

Cara Mencegah Infeksi Daur Hidup Cacing Pita

Ilustrasi cara mencegah infeksi dari cacing pita

Nah, jika kalian sudah memahami daur hidup cacing pita diatas, maka akan timbul pertanyaan lagi. Pastinya akan banyak yang bertanya tentang bagaimana mencegah dari infeksi cacing pita?

Salah satu cara yang bisa digunakan untuk mencegah infeksi dari cacing pita (taeniasis) adalah dengan memasak daging hingga matang sepenuhnya di suhu yang aman. Jika memungkinkan, termometer makanan harus digunakan untuk mengukur suhu dalam daging yang sedang dimasak.

Pihak United States Departemen of Agriculture (USDA) merekomendasikan sejumlah hal berikut ini dalam mengolah daging yang benar:

  • Untuk jenis potongan daging utuh (tidak termasuk daging unggas), maka masaklah hingga setidaknya daging bersuhu 63°C yang diukur dengan temometer makanan yang ditusukkan di bagian daging yang paling tebal. Kemudian diamkan lebih dulu dagingnya kurang lebih selama 3 menit sebelum dikonsumsi.
  • Untuk jenis daging cincang (tidak termasuk daging unggas), maka masaklah setidaknya hingga daging bersuhu 71°C. Namun daging cincang tidak membutuhkan waktu istirahat sebelum dimakan.

Ketika tiga menit waktu istirahat setelah daging dikeluarkan dari sumber api, suhunya akan tetap konstan atau terus meningkat yang bisa menghancurkan patogen berbahaya.

Pelajari Juga Yuk! Daur Hidup Kumbang

Akhir Kata

Nah, mungkin hanya itu saja sedikit penjelasan yang bisa saya berikan untuk Anda tentang siklus daur hidup cacing pita. Semoga dengan adanya artikel yang saya tulis dalam blog ini bisa membantu dan menambah pengetahuan Anda.

Tinggalkan komentar