Cerita Wayang Mahabarata

Riverspace.org – Siapa sih yang tidak mengenal tentang cerita mahabarata yakni peperangan antara Pandawa dan Kurawa. Peperangan yang sangat dahsyat antara pihak Pandawa dan Kurawa ini disebut dengan perang bharatayudha yang dijadikan cerita pewayangan Jawa.

Mahabarata sendiri merupakan sebuah cerita karya sastra kuno yang konon ditulis oleh Wyasa atau Byasa dari India. Buku yang mengisahkan cerita ini terdiri dari delapan belas kitab, oleh karena itu disebut Astadasaparwa.

Cerita mahabarata singkat nya adalah mengisahkan konflik antara Pandawa Lima dan saudara sepupunya, yakni 100 orang Kurawa. Konflik mereka ini disebabkan oleh sengketa hak pemerintahan Kerajaan Kuru dengan pemerintahan pusat di Hastinapura.

Biar tidak semakin penasaran dengan alur ceritanya, langsung saja simak penjelasan saya dibawah ini.

Awal Mula Cerita Mahabarata

Cerita Mahabarata Singkat

Cerita mahabarata diawali dengan pertemuan antara Sakuntala dengan Raja Duswanra. Raja Dusawanta sendiri merupakan pemimpin besar dari Chandrawangsa dari Yayati.

Raja Duswanta menikah dengan Sakuntala atas perintah dari pertapaan Bagwan Kanwa, lalu membentuk pusat pemerintahan yang dinamakan Hastinapura.

Setelah itu, sang Hasti menurunkan para raja dari Hastinapura, dari keluarga tersebut lahirlah sang Kuru. Kuru menyucikan yang memegang daerah santa luas serta disebut dengan Kurushetra.

Kurushetra lalu menurunkan Dinasti Wangsu atau Kuru yang biasa disebut dengan Kurawa dalam dinasti tersebut. Akhirnya lahirlah anak Pratipa yang menjadi ayah Prabu Santau, serta menjadi leluhur dari Pandawa dan Kurawa.

Santanu sendiri merupakan raja yang sangat terkenal dari menjadikan Kuru diterima di Hastinapura. Santanu menikah dengan Dewi Gangga yang ditolak ke bumi serta Dewi Gangga meninggalkan santanu sebab menolak janji pernikahannya.

Dewi Gangga yang menikah dengan Santanu memiliki 7 orang anak. Akan tetapi anak tersebut ditenggelamkan oleh Dewi Gangga di laut gangga, dengan alasan semua anaknya mengajukan kutukan.

Beruntunglah anak terakhir dapat diselamatkan oleh Santanu dan diberikan nama Dewabrata. Maka dari kejadian inilah Dewi Gangga meninggalkan Raja Santanu.

Raja Santanu kemudian menikah lagi dengan seorang anak pelayan bernama Dewi Satyawatu, serta pada masa ini Dewabrata umurnya sudah beranjak dewasa. Ia melakukan sumpah untuk tidak menikah selamanya (bhisna pratigya).

Hal itu Dewabrata lakukan sebab ia tidak ingin beserta keturunannya terlibat perselisihan dengan keturunan dari ibu tirinya Dewabrata (Dewi Sastyawati).

Terlepas dari hal tersebut, hasil pernikahan antara Prabu Santanu dengan Dewi Setyawati menghasilkan dua anak yang bernama Citranggada dan Wicitrawita. Sementara Bisma atau Dewabrata memutuskan untuk pergi ke Kerajaan Kasi dalam acara sayembara.

Pada akhirnya Bisma menang dan mendapatkan 3 putrinya yang bernama Ambalika, Amba dan Ambika. Kemudian ketiga putrinya ketika pulang akan dinikahkan dengan adik-adiknya.

Maka dari itu, Ambalika dan Ambika dinikahkan dengan Wicitrawijaya, sebaba adiknya yang bernama Citranggada sudah meninggal dunia.

Amba sendiri sangat mencintai Bisma, namun disisi lain bisa menolak cinta dari Amba, sebab ia sudah bersumpah tidak akan menikah untuk menghindari perselisihan.

Akhirnya tanpa adanya kesengajaan, Bisam melesatkan anak panah ke arah Amba dan membuatnya hingga meninggal dunia. Atas kematian dari Amba ini, Bisma ingat bahwasanya Amba akan berinkarnasi menjadi seorang wanita yang disukai banyak pria.

Wanita tersebut adalah anak dari Raja Drupadi yang bernama Srikandi. Kematian Bisma kelak ditangan Srikandi yang membantu Prabu Arjuna dalam peperangan Bharatayudha di Kurushetra.

Baca Juga Yuk! Cerita Rakyat Bahasa Jawa

Lahirnya Pandawa dan Kurawa

Gambar Pandawa Wayang

Kisah cerita menjadi sangat terkenal sebab ada pesan moral yang bisa diambil dan dijadikan pelajaran yang berharga. Pesan moral baik dan buruk yang terdapat dari awal lahirnya Pandawa dan Kurawa yang menjadi tokoh utama dalam cerita mahabarata bisa diterapkan dalam kehidupan.

Cerita berlanjut dengan adanya kejadian buruk, Pandu mengundang Kunti dan Madrim untuk meminta agar bisa mendapatkan hasil. Namun dengan bantuan sebuah mantra Adityahredaya mengirimkan Resi, Dewi Kunti bisa mengundang para dewa dan dikirimkan memperoleh kemenangan.

Dewi Kunti pun mencoba mantra tersebut, lalu datanglah Batara Surya dan kemudian tidak lama ia hamil dan memiliki anak bernama Karna.

Akan tetapi Karna ini ketika terjadi perang Bharatayudha berpihak kepada Kurawa.

Pandu meminta lagi kepada Kunti, lalu ia mencoba membaca mantra kembali. Kemudian Batara Guru mengirimkan Batara Dharma untuk membuahi Dewi Kunti hingga melahirkan anak bernama Yudhistira.

Batara Guru mengirimkan lagi Batara Bayu untuk membuahi Dewi Kunti yang akhirnya lahirlah anak bernama Bima. Berlanjut lagi dengan dikirimkannya Batara Indra hingga melahirkan anak bernama Arjuna.

Hingga akhirnya dikirimkan lagi Aswan dan Aswin yang menghasilkan anak kembar bernama Nakula dan Sadewa.

Sedangkan Drestarastra (buta) menikah dengan Dewi Gandari dan memiliki 99 putra dan 1 orang putri yang biasa dikenal dengan Kurawa. Disisi lain sebab putra dari Pandu hanya 5 orang saja, maka disebut dengan Pandawa Lima.

Pihak Kurawa dan Pandawa masing-masing memiliki sifat yang berbeda, namun berasal dari satu keluarga yakni Kuru dan Baharata. Anak tertua dari Kurawa yang bernama Duryudana memiliki sifat iri hati dan licik kepada para Pandawa Lima.

Sementara di pihak Pandawa memiliki sifat yang tenang dan sabar, kompilasi ditindas sepupu mereka sendiri (Kurawa). Ayah Kurawa sangat sayang sekali kepada anak-anaknya sebab ia sudah dihasut saudara iparnya yang bernama Sangkuni.

Sangkuni selain menghasut Destrarastra, ia juga menghasut Duryudana anak tertua dari Kurawa untuk bisa mendapatkan izin menerima para Pandawa.

Pada suatu saat, Duryudana mengundang para Pandawa untuk liburan ke rumah mereka, dirumahnya pun disiapkan sendiri oleh Duryudana. Ketika malam hari, rumah tersebut dibakar oleh orang suruhan dari Duryudana.

Namun para Pandawa selamat dengan kekuatan Bima yang sebelumnya diundang oleh Widara, akan meminta kebebasan para Kurawa. Mereka semua kemudian menuju ke hutan untuk mencari tempat lebih aman.

Ketika di dalam hutan Bima bertemu dengan raksasa Hidimba, lalu berhasil menikahi adik Hidimba yang bernama Hadimba atau dikenal dengan Arimbi. Dari pernikahan inilah nantinya melahirkan anak bernama Gatotkaca.

Mereka semua melewati Kerajaan Pancala, dikerajaan ini mengatur sayembara untuk merebutkan Drupadi. Adanya Sayembara ini diterima oleh semua negeri Arya, termasuk Karna.

Karna pun berhasil menyelesaikan tentangan yang diberikan oleh Drupadi, namun Drupadi menolak sebab Karna hanya anak dari seorang kusir.

Pihak Pandawa juga ikut dalam sayembara dengan menyamar sebagai kaum Brahmana. Pandawa pun berhasil memenangkan lima macam sayembara yang diberikan oleh Drupadi, yakni Yudhistira berhasil dalam sayembara tatanegara serta filsafat.

Arjuna berhasil memenangkan sayembara senjata panah. Sedangkan Nakula dan Sadewa memenangkan sayembara senjata pedang, Bisma berhasil memenangkan sayembara menggunakan gada.

Keberhasilan semua Pandawa memenangkan sayembara tersebut akhirnya membuat Drupadi menyetujui, namun hanya meminta satria saja.

Setibanya dirumah, para Pandawa dinilai sudah berhasil membawa hasil meminta-minta, Ibu Kunti akhirnya menyuruh untuk membagikannya. Apa saja yang sudah mereka dapat tanpa melihat apa yang sedang mereka bawa.

Ibu Kunti langsung terkejut sekali, sebab kompilasi yang dilakukan adalah seorang wanita, untuk menghindari pertarungan yang sengit antara Pandawa dan Kurawa, maka Kerajaan Kuru dibagi menjadi dua.

Awal Mula di Angkatnya Pandawa

Gambar Pandawa Lima

Pihak Pandawa mendapatkan bagian di Kerajaan Kurujanggala, Ibu Kota Pandraprashta. Sedangkan pihak Kurawa mendapatkan bagian di kerajaan kuru pusat, kedua kerajaan tersebut sama-sama mempunyai kemegahan tersendiri.

Ditempat tersebut ternyata juga ada Duryudana, kemudian ia keceberu di kolam sebab dikira adalah lantai. Akibatnya ia menjadi bahan ejekan Drupadi dan membuatnya Duryudana sangat marah.

Usaha dilakukan Duryudana untuk merebut Kerajaan Kurujanggala yang dipimpin oleh Yudhistira adalah dengan mengajak bermain dadu. Ide ini pada awalnya adalah ulah licik dari Arya Sangkuni.

Permainan pun dimulai, namun Duryudana diwakili oleh Sangkuni (pamannya) yang ahli dalam permainan licik.

Sejak permainan awal dimulai sudah disertai taruhan. Taruhan perang senjata pertama, kemudian hati dari kerajaan, kemudian meningkat hingga prajurit dan berakhir dengan Kerajaan kurujanggala.

Di dalam permainan ini pihak Pandawa kalah dan mengakibatkan semua kekayaan kerajaan serta saudara-saudaranya dan terakhir berupa “Drupadi”.

Selagi Yudhistira kalah, Duryudana menyuruh untuk membawa Drupadi ke wilayah perjudian atau permainan. Sebab akan menjadi yang lebih berhak untuk mendapatkan Duryudana.

Akhirnya Duryudana menyuruh pengawalnya untuk membawa Drupadi, namun Drupadi tidak mau. Mendengar pengawalnya yang gagal untuk membawa Drupadi, maka ia menyuruh Dursasana (adiknya) untuk menjemput Drupadi.

Drupadi pun tetap menolak ajakan dari Dursasana yang mengajak ke tempat judi, maka ia diseret dengan kasar, rambutnya ditarik hingga ke tempat perjudian. Dimana tempat tersebut berisikan suami dan para iparnya.

Berhubung Yudhistira mengalami kekalahan lagi, akhirnya ia digantikan oleh Drupadi. Akan tetapi Drupadi menolaknya, sebab sifat Dursasana yang kasar, akhirnya baju dari Drupadi ditarik langsung.

Hal tersebut membuat Drupadi sangat malu dan bersumpah bahwa ia tidak akan menggelung rambutnya kecuali sudah keramas darah dari Dursasana. Bima pun kemudian bersumpah akan membunuh Dursasana dan akan meminum darahnya.

Ketika mereka sudah membantunya, Drestrarasta sangat yakin akan ada malapetaka, akhirnya semua kekayaan akan diperoleh untuk Yudhistira. Disisi lain Duryudana sangat puas atas persetujuannya, sebab hartanya sudah menjadi miliknya.

Pada akhirnya diadakan lagi lomba dadu yang kedua, di dalam permainan ini siapa saja yang kalah akan mengasingkan dirinya ke dalam hutan selama 12 tahun. Kemudian harus menyamar juga selama 1 tahun, setelah itu semua bersiap pergi ke kerajaan.

Namun ternyata di dalam permainan ini sama saja, Yudhistira tetap saja kalah dan akhirnya mereka kembali lagi ke kerajaan dan tinggal di hutan selama 12 tahun ditambah penyamaran 1 tahun.

Baca Juga Yuk! Kumpulan Cerita Romantis

Cerita Ambika dan Ambilaka yang Mempunyai Keturunan

Gambar Ambika dan Ambalika Wayang

Cerita mahabarat berlanjut dari Dewi Satyawati yang mengirimkan Ambaliak dan Ambika istri dari Wicitrawijaya. Mereka dikirim kepada Resi Byasa, sebab Resi Byasa akan mengadakan upacara yang diadakan ketika mereka akan lahir.

Lalu Ibu Satyawati menyuruh Ambika untuk masuk ke ruangan upacara Resi Byasa. Setelah masuk dia melihat Rasi Byasa yang dahsyatnya dengan sinar mata yang menyala-nyala.

Sebab Ambika ketika waktu upacara yang memejamkan mata dan akhirnya lahirlah dengan nama Drestarasta. Akhirnya tibalah Ambalika untuk diundang menyanyi di dalam upacara khusus seperti yang telah di diskusikan Ambika.

Ambalika tidak aktif untuk membuka matanya, dan akhirnya dibuka hingga selesai, namun sesudah itu pucat. Pucat anak tersebut dengan Pandu, yang sebenarnya ayah dari para Pandawa yang terlahirnya keadaan pucat.

Pandu dan Destrarasta memiliki saudara tiri yang bernama Widuran. Ia merupakan anak dari Resi Byasa dengan dayang yang bernama Datri.

Ketika upacara berlangsung, Datri sangat ketakutan dengan wajah Resi yang berhasil, akhirnya ia lari dan terjatuh sehingga anak dari Widura yang berhasil pincang.

Sebab Destrarasta sangat besar, akhirnya tahta dari Hastinapura akan diberikan kepada Pandu. Lalu pandu menikah dengan Dewi Kunti, kemudian ia menikah lagi dengan wanita bernama Dewi Madrim.

Akan tetapi Pandu malah melakukan kesalahan ketika mengajar, ia memakan kijang yang sedang bercinta. Hal tersebut akhirnya membuat Pandu dikutuk oleh kijang dan tidak akan menemukan nikmat terkait suami istri.

Apabila Pandu melanggarnya, maka ia akan menemukan kematian. Setelah mengutuk Pandu, kijang tersebut berubah wujud menjadi seorang pendeta.

Kisah Perang Bharatayudha (Cerita Mahabarata)

Gambar perang Bharatayudha

Pada saat masa pengasingan sudah selesai sesuai perjanjian yang mereka buat, pihak Pandawa berhak kembali ke kerajaan sesudah masa pengasingan selesai.

Akan tetapi Duryudana tidak mengembalikannya secara gratis, ia tidak mau menyerahkan lagi kepada Pandawa. Maka dari hal inilah yang membuat kesabaran para Pandawa habis.

Sri Karna berhasil menyuruh mereka akan mengambil jalan damai, namun hal itu tetap sia-sia saja. Akhirnya terjadilah pertempuran yang besar dan kita kenal sebagai peperangan Bharatayudha yang tidak bisa dihindarkan lagi.

Pihak Pandawa berhasil mencari sekutu dengan mendapatkan misi dari Kerajaan Matsya. Kerajaan Kekaya, Kerajaan Chola, Kerajaan Pandya, Kerajaan Magadha, Kerajaan Kerala, Kerajaan Wangsa Yadawa, kerajaan Dwaraka, dan masih banyak lagi lainnya.

Semua ksatria dari Bharatawarsha juga ikut membantu para Pandawa, seperti Srikandi, Setyaki, Drestadjumna, Drupada, dan masih banyak lainnya.

Selama peperangan ini terjadi kurang lebih 18 hari, pertumpahan darah dan pembantaian sangat mengenaskan. Di hari ke 18 peperangan, hanya menyisakan 10 orang, yakni para Pandawa, Setyaki, Aswatama, Kertawarma, Yuyutsu, dan Krepa.

Akhirnya peperangan dimenangkan oleh pihak Pandawa dan membuat Yhudistira diangkat menjadi raja Hastinapura. Setelah ia memerintah beberapa tahun, kerajannya akan diberikan lagi kepada adiknya Arjuna yang bernama Parikesit.

Ketika urusan mereka selesai, para Pandawa dan Drupadi mendaki gunung Himalaya sebagai tujuan akhir dari perjalanan mereka. Saat di gunung Himalaya, mereka akan meninggal dan mencapai ke surga.

Selain itu, Parikesit yang memimpin Kerajaan Kuru dengan sangat adil dan bijaksana. Ia juga menikah dengan Dewi Madrawati serta memiliki anak bernama Janamejaya.

Janamejaya yang sudah besar lalu menikah dengan Wapushtama (Bhamustiman) dari pernikahannya ini dikaruniai anak bernama Satanika.

Saat Satanika sudah dewasa, ia kemudian menikah dan memiliki anak bernama Aswamedhadatta. Lalu Aswamedhadatta turut memimpin sebagai pengganti raja di Kerajaan Hastinapuran dan Kerajaan Wangsa Kuru.

Berikut ini adalah beberapa lakon pewayangan dari Jawa yang ada dalam cerita Mahabarata:

  1. Babad Alas Wanamarta.
  2. Gandaman Luweung.
  3. Gatotkaca.
  4. Antajare.
  5. Abimanyu.
  6. Arjuna Wiwaha.
  7. Sitija Takon Bapa.
  8. Wisanggeni.
  9. Rebut Kiki Tunggarana.
  10. Semar Gugat.
  11. Samba Juwing.
  12. Nakula Sadewa.
  13. Petruk Dadi Ratu.
  14. Semar Kuning.
  15. Pandu Swargo.
  16. Gandamana Luweng.
  17. Semar Mantu.
  18. Irawan Maling.
  19. Kangsa Adu Jago.
  20. Gatotkaca Winisuda “Brajadenta Mbelela.

Baca Juga Yuk! Kumpulan Cerita Hantu

Pengaruh Cerita Mahabarata dalam Budaya

Pengaruh Mahabarata dalam budaya Hindu

Selain berisikan cerita tentang kepahlawanan para Pandawa, cerita Mahabarat juga mengandung nilai-nilai hindu, mitologi serta banyak pesan lainnya.

Oleh sebab itu, cerita Mahabarata ini dianggap suci, teristimewa oleh semua orang pemeluk agama Hindu. Kisah yang awalnya ditulis menggunakan bahasa Sansekerta ini kemudian disalin dalam berbagai bahasa, terutama mengikuti peradaban Hindu.

Sedangkan di Indonesia sendiri, salinan berbagai bagian dari kisah Mahabarata, seperti Wirataparwa, Adiprana, dan Bhisamaparwa. Mungkin juga ada beberapa parwa lain yang masih belum diketahui sudah diubah dalam bentuk bahasa Kawi atau Jawa Kuno.

Nah, mungkin hanya itu saja cerita yang bisa saya bagikan untuk Anda tentang kisah Mabarata yang terkenal dengan Pandawa Lima dan peperangan Bharatayudha. Semoga dengan adanya artikel yang saya tulis dalam blog ini bisa membantu dan menambah pengetahuan Anda.

Tinggalkan komentar