Contoh Cerita Cindelaras

Cerita Cindelaras merupakan kisah atau dongeng yang cukup terkenal bagi anak-anak yang berasal dari Jawa Timur. Cerita rakyat Indonesia ini memiliki filosofi bahwa kebaikan pada akhirnya akan terungkap dan menang.

Selain itu, di dalam cerita Cindelaras juga menceritakan seorang pemuda tampan yang lahir dan dibesarkan oleh ibunya di tengah hutan. Sebenarnya Cindelaras merupakan putra Raja dari Kerajaan Jenggala pada waktu itu.

Namun pada suatu hari ibunya difitnah oleh selir raja yang membuatnya harus diusir dari istana. Dalam cerita ini Cindelaras dikisahkan memiliki seekor ayam jantan petarung yang tidak terkalahkan.

Pasti kalian penasaran kan dengan kelanjutan ceritanya? Kalau begitu langsung saja baca kisahnya dibawah ini.

Nama-Nama Tokoh Dalam Cerita Cindelaras

Ilustrasi tokoh utama cerita Cindelaras

Sebelum masuk ke cerita, alangkah baiknya mengerti dulu tokoh-tokoh di dalam cerita Cindelaras selain tokoh utama di dalamnya. Berikut ini adalah nama-nama tokoh di dalam cerita Cindelaras yang berasal dari Jawa Timur, antara lain:

  • Cindelaras, sebagai tokoh utama yang mempunyai sifat baik, cerdas dan pantang menyerah.
  • Raden Putra, sebagai raja Kerajaan Jenggala yang mempunyai sifat baik, tegas namun mudah di bodohi.
  • Permaisuri, didalam cerita mempunyai sifat baik hati, cerdas, dan penyabar.
  • Selir, digambarkan mempunyai sifat tidak puas akan kedudukannya, selalu iri pada permaisuri dan pendengki.
  • Tabib Istana, digambarkan mempunyai sifat cinta dunia, memfitnah permaisuri demi mendapatkan imbalan harta.
  • Patih Kerajaan Jenggala, digambarkan mempunyai sifat baik hati, bijaksana dan cerdas.
  • Ayam Jantan Cindelaras, digambarkan memiliki sifat tangguh dan sangat pemberani.

Ringkasan Cerita Cindelaras

Ilustrasi tokoh utama Cindelaras

Setelah mengetahui tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita Cindelaras, berikut ini saya berikan juga ringkasan cerita rakyat Cindelaras dari Jawa Timur.

Cindelaras merupakan seorang anak laki-laki yang terlahir dan dibesarkan di hutan oleh ibunya. Ibu Cindelaras sebenarnya adalah seorang permaisuri yang difitnah oleh selir raja yang membuatnya di usir dari kerajaan.

Selir raja tersebut melakukan fitnah dengan cara kerjasama dengan tabib istana.

Oleh sebab itu, Cindelaras lalu pergi ke Kerajaan Jenggala dengan maksud untuk menjelaskan kejadian sebenarnya kepada ayahnya, yakni Raden Putra raja Kerajaan Jenggala.

Ketika di dalam Kerajaan Jenggala, ayam jago petarung dari Cindelaras banyak memenangkan pertarungan sabung ayam. Akhirnya kejadian itu membuat Raden Putra penasaran  ingin mengadu ayam jagonya dengan milik Cindelaras.

Cindelaras pun menyutujui untuk mengadu ayam jagonya dengan miliki Raden Putra dengan syarat. Syarat yang diberikan adalah apabila dia kalah, maka bersedia dipancung dan apabila raja yang kalah, Cindelaras meminta setengah kekayaan Raden Putra.

Singkat cerita, Cindelaras berhasil memenangkan pertandingan sabung ayam tersebut.

Cindelaras lalu menyampaikan kepada Raden Putra tentang fitnah yang dilakukan oleh selir dan tabib istana kepada ibunya.

Pernyataan Cindelaras juga dibenarkan oleh Patih Kerjaan Jenggala.

Raden Putra pun terkejut dan sangat marah kepada selirnya dan tabib istana tersebut. Akhirnya Raden Putra memberikan hukuman dengan cara diasingkan dari kerajaan.

Raden Putra pun segera memberikan perintah kepada putrinya untuk menjemput permaisuri atau ibu Cindelaras di dalam hutan. Pada akhirnya permaisuri dan Cindelaras hidup bahagia di istana Kerajaan Jenggala.

Baca Juga Yuk! Cerita Sangkuriang

Cerita Cindelaras Dalam Bahasa Indonesia

Ilustrasi Cindelaras dalam dongeng rakyat Jawa Timur

Jika Anda masih penasaran dengan Cerita Cindelaras  secara lengkap menggunakan bahasa Indonesia. Berikut ini saya sudah menyiapkan secara lengkap tentang cerita dari awal hingga akhir.

1. Fitnah Selir Pada Permaisuri

Pada zaman dahulu kala, dikisahkan Raja Kerajaan Jenggala yang bernama Raden Putra memiliki dua orang istri yang sangat cantik jelita.

Istri pertamanya ialah sang permaisuri yang baik hati sekali, sementara istri kedua yakni selir bersifat iri dan dengki. Sang selir dari raja ini selalu iri kepada sang permaisuri raja.

Ia tidak puas dengan kedudukan yang dimiliki sekarang ini, apalagi dari seorang tabib istana yang memberikan kabar kepadanya. Tabib tersebut memberikan kabar bahwa permaisuri sedang mengandung yang nantinya akan menjadi putra mahkota Kerajaan Jenggala.

Sang selir takut posisinya di mata Raden Putra akan terancam disisihkan oleh sang raja tersebut. Akhirnya ia memiliki rencana jahat untuk menyingkirkan sang permaisuri dari istana supaya perhatian Raden Putra hanya menuju kepadanya.

“Akulah yang harus menjadi permaisuri, aku harus mencari akan untuk menyingkirkan permaisuri itu dari istana ini”. Ujar sang selir di dalam hatinya.

Kemudian sang selir diam-diam menyusun sebuah rencana jahat yang di dalam melakukan aksinya dibantu oleh sang tabib istana. Ia kemudian berpura-pura sakit, maka ketika Raden Putra bertanya kepada sang tabib akan memberikan pernyataan palsu bahwa sang selir sudah di racun oleh permaisuri.

“Wahai tabib, sakit apakah yang diderita oleh istriku ini?”. Ujar Raden Putra bertanya kepada sang tabib.

“Ampun paduka, beliau sakit yang sebab memakan makanan yang mengandung racun”. Jawab dari tabib istana.

“Kurang ajar! Siapa yang berani meracuni selirku wahai tabib? Apakah engkau tahu siapa orangnya?” Tanya Raden Putra lagi kepada tabib.

“Ampun paduka, hamba tidak bermaksud lancang, namun permaisurilah yang sudah meracuni selir Anda”. Ucapan palsu dari sang tabib.

Raden Putra pada awalnya tidak percaya mendengar perkataan dari tabib bahwa permaisuri yang sudah meracuni selirnya tersebut.

Akhirnya, Raden Putra memberikan perintah kepada patihnya untuk membuang sang permaisuri ke dalam hutan belantara. Tidak cukup disitu saja, Raden Putra pun memerintahkan untuk membunuhnya setelah sampai dihutan.

“Hai Patih! Permaisuriku sudah melakukan perbuatan jahat dengan meracuni selir, maka bawalah ia ke dalam hutan. Apabila sudah tiba di hutan, maka bunuhlah dia”. Perintah dari Raden Putra kepada sang patih.

“Baik Paduka! Hamba akan laksanakan”. Jawab sang patih kerajaan.

2. Permaisuri Diasingkan Ke Hutan Rimba

Patih Kerajaan Jenggala memiliki fikiran bahwa tidak mungkin wanita seanggun permaisuri melakukan kejahatan meracuni selir. Malah patih disini curgia bahwa sang selir sudah melakukan fitnah kepada sang permaisuri untuk menyingkirkannya dari istana.

Patih pun merasa sang permaisuri tidak bersalah, namun ia mau tidak mau harus menuruti perintah dari Raden Putra. Segera sang patih bergegas membawa sang permaisuuri untuk diasingkan ke dalam hutan.

“Mohon maaf Gusti! Hamba tahu bahwa engkau tidak bersalah, namun hamba harus melaksanakan perintah dari Paduka Raja”. Ujar sang patih dengan nada lembut.

“Lakukan saja tugasmu wahai Patih! Aku sudah rela menerima hukuman ini”. Jawab sang permaisuri.

Ketika tiba di hutan, sang patih tidaklah membunuh permaisuri, malahan ia membuatkan sebuah gubuk untuk tempat tinggalnya. Sang patih juga mencarikan makanan yang cukup untuk persediaan permaisuri dalam beberapa hari, sementara permaisuri masih belum mengenal hutan.

Permaiasuri kemudian sangat berterimakasih kepada sang patih. Sebagai cara untuk mengelabuhi titah sang raja, maka ia menangkap seekor kelinci yang kemudian disembelihnya.

Kemudian kelinci tersebut diambil darahnya dan diusapkan ke keris pusakanya sebagai barang bukti bahwa ia sudah membunuh sang permaisuri.

“Hamba tinggalkan Gusti di tengah hutan, Hamba akan mengaku kepada raja bahwa sudah membunuh Gusti, sebagai buktinya akan Hamba tunjukkan keris yang berlumuran darah ini kepada raja”. Ujar sang patih.

“Sekali lagi terimakasih paman patih atas bantuannya. Aku tidak akan melupakan kebaikan yang sudah engkau lakukan untukku? Ucap permaisuri kepada sang patih.

Setelah sang patih meninggalkannya, permaisuri tinggal sendirian di tengah hutan belantara. Ketika itu, permaisuri dalam keadaan mengandung.

Hari demi hari pun dilalui permaisuri dengan sangat berat di hutan sendirian. Ditambah dengan keadaannya yang sedang hamil, membuatnya harus mencari makan dan melindungi diri dari berbagai ancaman binatang buas.

3. Kelahiran Cindelaras

Seiring berjalannya waktu, akhirnya sang permaisuri tersebut melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan. Ia memberikan nama pada anaknya itu dengan nama Cindelaras.

Dengan rasa penuh kasih sayang, ia merawat Cindelaras sehingga tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tangkas. Cindelaras kecil sudah tumbuh menjadi seorang anak laki-laki tampan dan tangkas.

Sejak umurnya masih kecil, ia sudah terbiasa bergaul bersama hewan-hewan di dalam hutan belantara. Berbagai hewan tersebut sudah menjadi dekat dan menurut pada perintah yang diberikan Cindelaras.

Cindelaras sangat sayang sekali kepada ibunya, setiap hari ia mencari makan di dalam hutan untuk menyambung hidupnya. Akan tetapi, Cindelaras tidak habis pikir kenapa seorang wanita seperti ibunya bisa tinggal di tengah hutan tanpa adanya kerabat dan keluarga.

Bukan hanya itu saja, ada satu lagi  hal yang mengganjal di dalam pikirannya tentang siapa ayahnya?.

4. Ayam Cindelaras

Pada suatu hari, terdapat seekor burung rajawali menjatuhkan sebutir telur ayam di dekat Cindelaras. Telur itu kemudian diambil olehnya dan ia mengeramkannya pada seekor ayam hutan betina sahabatnya.

Dalam waktu tiga hari saja telur ayam tersebut sudah menetas.

Cindelaras merawat ayam itu dengan sangat baik, hingga tumbuh menjadi seekor ayam jantan petarung yang sangat hebat. Paruhnya sangat runcing dan kokoh, kedua kakinya terlihat kekar dengan kuku-kuku runcing tajam.

Terdapat satu keanehan dari ayam jago milik Cindelaras, yakni suara kokokannya “Kukuruyuk…… Tuanku bernama Cindelaras, rumahnya ditengah hutan rimnba, atapnya daun kelapa, ayahnya adalah Raden Putra”.

Cindelaras pun merasa heran dengan suara kokokkan dari ayam jago miliknya tersebut. Ia belum pernah menjumpai ayam yang bisa berbicara seperti ayam miliknya.

Cindelaras sangat yakin sekali bahwa ayamnya bukanlah ayam sembarangan. Selain itu, kokokkan dari ayamnya tersebut seakan-akan menjawab sebuah pertanyaan besar yang selama ini mengganjal di hatinya.

“Siapakah ayahnya? Benarkah ayahnya bernama Raden putra?”. Maka dari sinilah ia kemudian menanyakan kepada ibunya tentang suara kokokkan ayam miliknya itu.

Akhirnya Ibu Cindelaras menceritakan kejadian yang dialaminya tersebut kepada Cindelaras. Ia mengatakan bahwa Cindelaras merupakan anak dari Raden Putra, Raja Kerajaan Jenggala.

Ibunya tersebut menceritakan semuanya, bahwa ia diusir dari istana ke tengah hutan sebab mendapat fitnah dari selir Raden Putra.

“Cindelaras anakku! Ayahmu bernama Raden Putra, raja dari Kerajaan Jenggala, ibu mendapatka fitnah dari selir ayahmu dan membuat ibu harus diasingkan ke dalam hutan”. Ujar dari Ibu Cindelaras.

5. Cindelaras Pergi ke Kerajaan Jenggala

Setelah Cindelaras mengetahui asal-usul dirinya, maka ia kemudian meminta izin kepada ibunya untuk pergi ke istana Kerajaan Jenggala.

Cindelaras ingin membersihkan nama ibunya yang mendapatkan fitnah dari selir ayahnya tersebut. Ia kemudian pergi dengan membawa ayam jago petarungnya.

“Ibu, Cindelaras minta izin untuk pergi ke istana Kerajaan Jenggala, Cindelaras ingin membersihkan nama baik ibu dari fitnah selir”. Permintaan izin dari Cindelaras.

“Baiklah, hati-hati ya Nak, dalam setiap langkahmu Ibu doakan supaya engkau selalu mendapatkan keberuntungan dalam perjalanan menuju ke istana” Tutur sang Ibu.

Ketika di tengah-tengah perjalanan menuju Kerajaan Jenggala, Cindelaras bertemu dengan orang yang sedang mengadu ayam. Melihat pemandangan Cindelaras yang membawa seekor ayam jago, maka merek menantangnya untuk mengadu ayam.

Akan tetapi Cindelaras menolaknya, sebab ia tidak memiliki taruhan.

“Hai anak muda! Sepertinya engkau mempunyai ayam jago yang tangguh, mari kita mangdu ayam”. Ucap dari sekelompok orang pengadu ayam.

“Ah tidak! Bagaimana aku bisa mengadu ayam jagoku melawan ayam kalian, sedangkan aku tidak memiliki taruhan”. Cindelaras menolak ajakan dari orang tersebut sebab ia juga tidak mau berjudi.

“Kalau begitu taruhannya dirimu sendiri! Jika engkau kalah, maka engkau harus bekerja kepadaku. Tapi jika engkau menang, aku akan memberikan banyak harta, bagaimana setuju?”. Ucap orang yang menantang.

Sesungguhnya Cindelaras ragu-ragu untuk bersedia mengadu ayam jagonya tersebut. Namun ayam jago miliknya meronta-ronta, nampak seperti meminta untuk menerima tantangan tersebut.

Akhirnya Cindelaras pun menyetujui tantangan dari para pengadu ayam tersebut. “Baiklah, aku terima tantangan kalian”.

Pada saat ayam miliknya di adu melawan ayam lain, hanya dalam hitungan detik saja ayam jago miliknya bisa mengalahkan musuhnya.

Satu-persatu ayam miliki para penantang bisa dengan mudah dikalahkan oleh ayam jago Cindelaras. Alhasil dalam waktu singkat, kehebatan ayam jago Cindelaras tersebar ke seluruh negeri.

Banyak penyabung ayam yang berpendapat bahwa hanya ayam miliki Raden Putra saja yang bisa menandingi ayam Cindelaras.

Kabar tentang kehebatan ayam Cindelaras pun terdengar ke telinga Raden Putra. Ia kemudian sangat penasaran dengan Cindelaras dan ayam jago petarung miliknya.

Raden Putra sangat ingin sekali mengadu ayam miliknya dengan Cindelaras. Ia akhirnya menyuruh prajuritnya untuk mencari Cindelaras beserta ayam jago supaya dibawa ke istana.

“Hei prajurit! Aku mendengar ada seorang anak muda yang mempunyai ayam jago tangguh. Maka panggilah aank tersebut kesini, aku ingin mengadu ayam jagoku dengan ayamnya”. Ujar sang raja.

Singkat cerita, akhirnya Cindelaras berhasil dibawah ke istana oleh para prajurit untuk bertemu dengan Raden Putra.

“Apakah engkau yang bernama Cindelaras pemilik ayam jago tangguh? Maukah engkau mengadu ayam milikmu melawan ayam jago milikku?” Kata sang raja.

“Hamba bersedia Gusti Prabu”. Kata Cindelaras dan mengetahui bahwa orang dihadapannya adalah ayahnya sendiri.

“Kalau begitu apa taruhanmu?”, tanya sang raja kepada Cindelaras.

“Taruhannya, apabila ayam jago hamba kalah, maka hamba serahkan nyawa hamba kepada Gusti Prabu. Namun jika ayam jago milik hamba menang, maka hamba meminta separuh wilayah Kerajaan Jenggala, hamba harap Gusti Prabu tidak tersinggung dengan tawaran taruhan dari hamba”. Ucap Cindelaras.

“Baiklah mari kita mulai pertarungan ayam kita, bersiaplah engkau untuk dipenggal oleh algojo kerajaan sesuai pertarungan”. Ucap Raden Putra.

Pihak istana pun akhirnya menyiapkan arena pertarungan untuk kedua ayam tanggung tersebut. Selain itu, rakyat Jenggala berdayun-dayun datang ingin menyaksikan pertarungan kedua ayam itu.

Tidak jarang juga diantara rakyat melakukan taruhan mendukung ayam jago miliki Cindelaras ataupun milik sang raja.

6. Ayam Jago Cindelaras Mengalahkan Ayam Jago Raden Putra

Tiba saatnya kedua ayam jago tersebut melakukan pertempuran di tempat alun-alun istana. Ayam jago petarung milik Cindelaras nampak kalah besar dari segi fisik jika dibandingkan dengan ayam miliki Raden Putra.

Akan tetapi, ayam jago miliki Cindelaras  tidak sedikitpun menunjukan rasa takut melawannya. Maka dimulailah pertarungan kedua ayam tersebut dengan diiringi sorakan rakyat yang sedang menyaksikan.

Walaupun memiliki fisik yang lebih kecil, namun ayam jago milik Cindelaras  terlihat sangat tangguh. Ayam nya bisa membuat ayam jago milik Raden Putra kuwalahan dalam menghadapi berbagai serangannya.

Patukan dan juga tendangan silih berganti dilancarkan kedua ayam tersebut, namun disini ayam Cindelaras masih tetap unggul.

Sering sekali ayam jago miliki Raden Putra jatuh terpental karena terkena serangan dari ayam Cindelaras. Ayam milik Raden Putra pun tidak mau kalah dengan melakukan serangan balik, namun sangat mudah sekali ditangkis oleh ayam Cindelaras .

Melihat pemandangan tersebut, Raden Putra mulai nampak cemas pada raut wajahnya. Ia sangat khawatir jika ayam jago miliknya akan kalah dengan ayam petarung Cindelaras .

Kecemasan Raden Putra akhirnya menjadi kenyataan, tidak lama ayam jago miliknya berkoko meninggalkan arena pertandingan.

Kelihatannya ayam tersebut sudah tidak sanggup lagi melawan ayam dari Cindelaras yang sangat tangguh. Semua penonton yang mendukung Cindelaras pun besorak-sorak gembira, sementara Raden Putra merasa terkejut hingga tubuhnya menjadi lemas.

Meskipun belum bisa menerima kekalahannya, namun ia sebagai raja yang berkuasa di Kerajaan Jenggala rela menyerahkan sebagian wilayah kekuasaannya kepada Cindelaras.

Setelah pertandingan selesai, tiba-tiba ayam jago milik Cindelaras berkokok dengan suara “Kukuruyuk….. Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah hutan rumba, atapnya daun kelapa, ayahnya adalah Raden Putra”

Raden Putra yang mendengar itu pun dibuat heran. “Cindelaras apakah benar yang dikatakan ayam jago milikmu itu?”. Tanya Raden Putra kepada Cindelaras.

“Memang benar paduka, menurut ibu hamba yang sekarang berada di hutan rimba, hamba adalah anak dari Gusti Prabu dan ibu hamba adalah permaisuri paduka yang diasingkan ke hutan ketika mengandung saya. Beliau difitnah oleh selir, maka percayalah Gusti Prabu, ibu hamba tidak bersalah”. Ucap Cindelaras.

Melihat adanya kejadian tersebut, maka sang Patih Kerajaan segera menghadap ke Raden Putra.

“Ampun Gusti Prabu, hamba tidak melaksanakan titah Gusti Prabu untuk membunuh sang permaisuri. Sebab hamba tahu bahwa permaisuri hanyalah menjadi korban fitnah sang selir, ia bekerjasama dengan tabib untuk menyingkirkan permaisuri dari istana dan pemuda bernama Cindelaras ini memang benar anak Gusti Prabu”. Ucap Patih Kerajaan.

7. Permaisuri Kembali ke Kerajaan Jenggala

Mendengar perkataan dari Cindelaras beserta penjelasan dari patih kerajaan, maka Raden Putra menjadi sangat marah sekali. Ia kemudian segera memanggil sang selir dan tabib istana untuk menghadapnya.

“Wahai istriku dan tabib, apakah benar kalian berdua sudah bekerjasama untuk memfitnah permaisuri?”. Tanya Raden Putra.

Kedua orang ini dihadapan Raden Putra akhirnya mengakui perbuatan jahat yang telah dilakukan kepada sang permaisuri. Mereka berdua memohon ampun pada sang raja Jenggala, namun Raden Putra tidak bisa memaafkan mereka.

Akhirnya Raden Putra menjatuhkan hukuman mati untuk si tabib, sedangkan si selir dijatuhi hukuman berupa disingkirkan ke hutan rimba.

Kedok mereka berdua antara sang selir dan tabib istana terbongkar pada waktu itu. Setelah itu Raden Putra segera menyuruh para prajuritnya untuk menjemput sang permaisuri di hutang pengasingan.

Cerita pun berakhir dengan Cindelaras dan permaisuri yang sudah berada di Kerajaan Jenggala dan hidup bahagia di istana tersebut.

Baca Juga Yuk! Cerita Ramayana

Pengarang Cerita Cindelaras

Ilustrasi Cindelaras

Setelah membaca cerita Cindelaras diatas, apakah Anda sudah mengetahui siapa pengarangnya? Pengarang dari cerita rakyat Cindelaras dari Jawa Timur ini sebenarnya belum diketahui secara pasti dari siapa.

Kok bisa begitu, kenapa? Sebab pada dasarnya cerita ini berkembang luas dari lisan ke lisan oleh masyarakat Jawa Timur. Selain itu cerita rakyat Cindelaras ini memiliki beberapa versi dan bersifat tradisional.

Sekilas Tentang Kerajaan Jenggala

Ilustrasi Raja Airlangga

Jika di dasarkan pada catatan sejarahnya, Kerajaan Jenggala merupakan sebuah kerajaan yang berdiri sekitar tahun 1042 dan runtuh pada tahun 1130-an. Banyak yang memperkirakan letak pusat kerajaan ini berada di sekitar wilayah Sidoarjo, Jawa Timur.

Sedangkan untuk pusat pemerintahan Kerajaan Jenggala terletak di Kahuripan. Nama Jenggala sendiri diperkirakan diambil dari kata “Hujung Galuh”.

Hujung Galuh berada di daerah muara sungai Brantas yang banyak diperkirakan saat ini menjadi bagian kota Surabaya.

Raja-raja yang diperkirakan memerintah Kerajaan Jenggala antara lain:

  1. Mapanji Garasakan, tahun 1044.
  2. Alanjung Ahyes. tahun 1052.
  3. Samarotsaha, tahun 1059.

Terdapatnya kerajaan ini muncul di dalam naskah-naskah sastra yang berkembang ketika zaman kerajaan Islam di tanah Jawa, seperti Babad Tanah Jawa dan Serat Pranitriyadnya.

Keberadaan Kerajaan Jenggala tidak bisa dilepaskan dari peran Kerajaan Kahuripan yang didirikan oleh Airlangga setelah tuntuhnya Kerjaan medang Mataram.

Airlangga mempunyai gelar Abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramatunggadewa. Namanya sendiri sangat terkenal dalam berbagai cerita rakyat Indonesia.

Ayahanda dari Airlangga bernama Udayana, yakni seorang raja Kerajaan Bahalu (Bali) dari Wangsa Warmadewa. Sementara ibunya bernama Mahandrattaa, yakni seorang putri Wangsa Isyana dari Kerajaan Medang Mataram di Jawa Tengah.

Maka bisa dikatakan bahwa Airlangga masih memiliki darah keturunan Kerajaan Medang Mataram (Wangsa Isyana). Ia menjadi raja Kerajaan Kahuripan yang berada di kota Watan Mas di dekat Gunung Penanggungan.

Berdasarkan catatan dari prasasti terep, kota Kahuripan didirkan oleh Airlangga sekitar tahun 1032. Kemudian pada tahun 1042, Airlangga melepaskan jabatan dan memilih hidup menjadi seorang pendata dengan gelar Resi Ali PAduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhuwana.

Akan tetapi, putra mahkota Airlangga yang bernama Sanggramawijaya Tunggadewi, menolak menjadi raja dan memilih untuk hidup sebagai petapa biasa.

Oleh karena itu, munculah perebutan kekuasaan antara kedua putra Airlangga yang lainnya, yakni Sri Samarawijatya dan Mapanji Gasakan.

Airlangg kemudian memiliki cara untuk membagi kekuasaan Kahuripan antara kedua putranya tersebut menjadi dua kerajaan.

Kerajaan yang terletak di sebelah barat disebut dengan Kediri yang berpusat di kota baru Daha, diperintah oleh Sri Samarawijaya. Sementara kerajaan yang terletak di sebelah timur disebut Jenggala yang berpusat di kota lama, yakni Kahuripan diperintah oleh Mapanji Gasakan.

Walaupun demikian, kedua putranya tersebut masih saja melakukan peperangan dalam merebut kekuasaan.

Baca Juga Yuk! Cerita Wayang Bahasa Jawa

Akhir Kata

Tak terasa sudah sampai akhir cerita yang saya bagikan tentang Cindelaras ya, hehe. Ternyata lumayan banyak juga tulisan dari awal hingga akhir yang sudah saya berikan disini.

Semoga dengan adanya artikel ini bisa sedikit memberikan referensi untuk Anda tentang salah satu cerita rakyat Indonesia yang berasal dari Jawa Timur.

Tinggalkan komentar